\

Senin, 01 April 2013

Terasa De Javu



Manchester United kembali harus merelakan satu trofi melayang. Setelah tersingkir dari Piala Carling dan Liga Champions, kali ini Chelsea mengubur impian United untuk menggondol Piala FA yang terakhir kali mereka raih pada 2004.

Kekalahan ini memperburuk rekor United menghadapi Chelsea di kejuaraan domestik. United memang berhasil mengalahkan Chelsea 2-3 di liga, tapi Chelsea sudah 2 kali menggagalkan upaya United meraih gelar. Desember lalu, Chelsea juga yang menyingkirkan si "Setan Merah" dari perburuan trofi Piala Liga.

Dan dalam semua keberhasilan Chelsea mengandaskan ambisi United di dua kejuaraan itu, Juan Mata selalu memberi kontribusi vital. Tidak terkecuali pada laga tadi malam.

Hazard dan Mikel sebagai Starter

Rafa Benitez menurunkan starter dengan orientasi menyerang yang lebih kuat ketimbang di laga pertama. Hazard-Oscar-Mata diturunkan sejak awal untuk menopang Demba Ba yang dipasang sebagai striker tunggal. Obi Mikel juga diturunkan sejak menit pertama.

Di pertandingan pertama, Hazard disimpan Rafa dan baru dimasukkan di babak II setelah United unggul 2-0. Sebagaimana Hazard, saat itu Rafa juga baru memasukkan Mikel setelah United unggul 2-0. Setelah Hazard dan Mikel masuk, barulah Chelsea bisa mengendalikan permainan. Itulah sebabnya kali ini Rafa memutuskan untuk menurunkan Mikel dan Hazard sejak menit pertama.

Sementara Ferguson mengulangi strategi di laga pertama yaitu menurunkan tim dengan hanya memasang seorang natural-winger pada diri Nani. Sedikit kejutan diberikan Fergie dengan memasang Antonio Valencia sebagai full-back kanan.

4-2-3-1 Saat Menyerang, 4-3-3 Saat bertahan

Kendati sama-sama bermain dengan satu striker, kedua tim bermain dengan formasi yang agak berbeda. Jika Chelsea dengan 4-2-3-1, United cenderung bermain dengan 4-3-3. Trio lini tengah United, Jones-Carrick-Cleverley, seringkali bermain sejajar di depan back-four. Sementara Nani dan Wellbeck terus bertukar posisi di kanan dan kiri mendampingi Chicarito sebagai target-man. Saat menyerang, barulah United bermain dengan 4-2-3-1 dengan Cleverley naik dari sisi kiri.

Taktik ini tentu untuk menghambat agresivitas trio lini kedua Chelsea yang di laga pertama -- terutama di babak 2 --memang sangat merepotkan. Hazard di kanan tak dibiarkan oleh Jones untuk leluasa meneror Valencia. Sementara Cleverley juga rajin membantu Evra di kiri dalam meminimalisir ancaman dari Oscar. Di jantung lini tengah, dua otak permainan kedua tim -- Mata dan Carrick -- saling berhadapan.

Tiga gelandang tengah yang sering bergerak sejajar melindungi back-four inilah yang memungkinkan agresivitas Hazard-Mata-Oscar bisa dinetralisir dengan baik. Chelsea memang mendominasi di final third, terbukti mereka mampu memproduksi 8 percobaan mencetak gol. Akan tetapi, hanya 2 yang mencapai target. 4 dari 8 percobaan itu [50%] berhasil diblok oleh barisan pertahanan United.

Kredit patut diberikan pada Jones, terutama di babak I. Dia bukan hanya mampu melapis Valencia di kanan, tapi juga membantu Carrick dalam menahan pergerakan Juan Mata. Terutama setelah Valencia bisa lebih nyaman dalam mengunci Hazard, Jones lebih sering berada di samping Carrick sebagai double-pivot.


Ramires Lebih Agresif

Di babak II, Chelsea jauh lebih berbahaya ketimbang di babak I. United secara umum memang lebih menguasai dalam posession [44% vs 56%], tapi Chelsea lebih efisien dalam mengonversi penguasaan bola menjadi percobaan mencetak gol. Jika di babak I Chelsea hanya bisa membuat 8 percobaan, di babak II mereka berhasil membuat 12 attempts. Bandingkan dengan United yang hanya berhasil membuat 12 percobaan mencetak gol.

Salah satu sebab kenapa Chelsea bisa lebih efisien dalam menyerang adalah perubahan cara bermain Ramires. Di babak I, Ramires lebih sering tertahan di dalam. Posisinya cenderung sering sejajar dengan Obi Mikel. Dengan trio Hazard-Mata-Oscar secara konsisten dihadang oleh Jones-Carrick-Cleverley, Chelsea tak banyak mendapat ruang untuk mengekploitasi final third.


Jika di babak I itu Ramires cenderung statis sebagai double-pivot bersama Mikel, di babak II Ramires lebih agresif dan cenderung menjadi seorang box-to-box midfielder. Pemain Brasil ini lebih rajin bergerak ke depan, baik itu berdiri sejajar dengan Mata maupun mendekati areanya Oscar.

Perubahan ini membuat Chelsea unggul jumlah pemain saat memasuki daerah pertahanan United. Situasi di lini tengah bukan lagi 3 vs 3 [Hazard-Mata-Oscar vs Jones-Carrick-Cleverley], tapi 4 vs 3. Efek lainnya adalah makin leluasanya Mata bergerak di daerah pertahanan United. Dan inilah yang akhirnya menentukan hasil akhir.


Faktor Juan Mata

Dengan perubahan cara bermain Ramires di atas, Mata bisa lebih leluasa naik menopang Demba Ba. Posisinya tak lagi tertahan oleh Jones-Carrick, tapi sudah lebih sering berada di belakang Ba. Pemain pertama yang berhasil menorehkan double-digit dalam urusan mencetak gol dan membuat assist di musim 2012/2013 ini mulai sering mendapatkan ruang di dalam kotak penalti United.

Tak mengherankan jika statistik Mata di babak II ini jauh lebih mentereng. Jika di babak I dia tak sekali pun mampu membuat percobaan mencetak gol, sepanjang babak II dia malah mampu memproduksi 5 kali percobaan mencetak gol. Di babak II, Mata juga berhasil membuat beberapa key-passes [umpan yang lantas diakhiri dengan attempt] dan through pass -- sesuatu yang tak bisa dia lakukan sepanjang babak I.


Salah satu through pass yang dibuat Juan Mata di babak II bahkan berhasil dikonversi menjadi sebuah gol yang sangat cantik oleh Demba Ba. Assist Mata pada Ba ini melengkapi performa Mata di laga pertama saat ia juga mengkreasikan gol pertama Chelsea yang dicetak Hazard.


Publik lebih sering berbicara tentang catatan bagus Javier 'Chicharito' Hernandez saat menghadapi Chelsea [mencetak 6 gol dari 7 laga menghadapi Chelsea]. Tapi jangan lupakan Juan Mata. Dalam 6 laga menghadapi United, hanya sekali Mata tak berhasil membuat gol atau assist. Di 5 laga terakhir, Mata selalu memberikan kontribusi vital: jika tak mencetak gol, minimal dia selalu berhasil membuat assist.

Total kontribusi Mata bagi Chelsea saat menghadapi United dalam 5 laga terakhir adalah mencetak 2 gol dan membuat 3 assist.

Strategi Pergantian Pemain

Chicarito sebenarnya tak bermain buruk. Sendirian di lini depan, tanpa dukungan memadai dari lini tengah, dia masih sempat membuat 2 percobaan mencetak gol. Cech secara luar biasa berhasil mementahkan 2 percobaan Chica tersebut.

Kendala terbesar Chica adalah minimnya suplai dari lini tengah. Hanya Wellbeck yang relatif bermain baik. Sementara Nani sama sekali tak memberi kontribusi yang berarti. Begitu juga dengan Cleverley yang sebenarnya diinstruksikan untuk lebih aktif ke depan saat menyerang. Tidak heran jika dua pemain itu pula yang ditarik keluar digantikan oleh Robin van Persie dan Ryan Giggs.

Perubahan ini membuat United bermain dengan formasi 4-4-2. Selain menduetkan Persie dan Chica di lini depan, Fergie juga menukar posisi Jones dan Valencia. Kali ini Jones menjadi full-back kanan, sementara Valencia mengisi posisi di flank kanan. Giggs sendiri berada di depan Carrick. Karena tak kunjung mempertajam daya gedor, Fergie kembali melakukan perubahan terakhir. Wellbeck ditarik ke luar digantikan oleh Ashley Young pada menit 80.

Perubahan kali ini cukup berhasil meningkatkan serangan United. 10 menit terakhir, United sangat dominan dalam melakukan serangan. Ryan Bertrand di kiri dan Azpilicueta di kanan harus sekuat tenaga mempertahankan wilayahnya dari serbuan Valencia dan Young. Sampai-sampai, Mata dan Oscar pun harus ikut bertahan dan akhirnya menerima kartu kuning dalam selang 1 menit saja.

Sayang tak cukup waktu bagi United. Tentu saja ditambah satu hal: mandulnya Van Persie yang gagal mengkonversi peluang emas di depan gawang Chelsea.

Kesimpulan

Ini bukan laga hebat dengan kejadian-kejadian spektakuler. Laga cenderung datar walau kedua tim sebenarnya tidak ada yang berusaha bermain bertahan. Total 32 percobaan mencetak gol di laga ini setidaknya menunjukkan bagaimana kedua tim berusaha aktif menyerang. Laga di babak II juga cenderung lebih hidup ketimbang babak I yang monoton.

United bermain lebih baik ketimbang di laga pertama, tapi sukar untuk tidak mengatakan United bermain terlalu standar. Anak asuh Fergie ini baru menyengat setelah ketinggalan. Bermain buruk tentu saja bukan barang baru bagi United. Bedanya: ini bukan Liga Inggris di mana United sangat sering berhasil meraih 3 poin walau bermain buruk sekali pun.

Sejauh ini, setidaknya dalam 3 laga di Piala Carling dan Piala FA, Rafa Benitez terbukti menjadi kartu mati bagi United dan Sir Alex Ferguson.


Glory - Glory Man. United

Tidak ada komentar:

Posting Komentar