\

Rabu, 03 April 2013

Fans Layar Kaca



Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kabar bentrokan antara fans Barcelona dan Real Madrid di Yogyakarta, atau tawuran tifosi Juventus dan Inter Milan di Manado?

Mungkin kita bisa maklum apabila kelompok-kelompok suporter klub-klub lokal berbasis massa besar rajin mencuri atensi. Tapi bagaimana jika letupan emosi yang menjadi pelatuk konflik itu justru berasal dari tim-tim yang hanya bisa disaksikan dari layar kaca?

Pada Sabtu tengah malam, 2 Maret 2013, para fans layar kaca itu gontok-gontokan di Yogyakarta, setelah tersaji siaran langsung El Clasico. Kabarnya, kadar tawuran antara fans Barcelona dan Madrid itu hampir menyamai konflik antarsuporter "ala" klub-klub di tanah air.

Media jejaring sosial macam twitter jadi pusat penghakiman massa. Yogja seolah-olah merebut fokus para peselancar dunia maya dari partai klasik itu sendiri. Acara nonton bareng yang seyogyanya cukup menjadi ajang "adu gengsi" atau "adu narsis" fans dua klub rival itu, menemui pembelokan makna. Pertandingannya terjadi puluhan ribu mil nun jauh di sana, bentrokannya justru terjadi di sini.

Kekonyolan serupa terjadi di sebuah kawasan di kota Manado, Sulawesi Utara, pada 30 Maret lalu, sehabis pertandingan Inter vs Juventus, yang berakhir 2-1 untuk Bianconeri. Setelah nobar, suporter kedua kesebelasan saling ejek, lalu saling pukul dan kemudian lempar-lemparan batu.

Konflik penting untuk solidaritas?

Mari berselancar sejenak lewat analisa ilmu sosial tentang konflik, entah itu konflik berlevel ecek-ecek hingga yang berskala besar. Dalam kacamata sosiologi, para pencetus teori konflik terbagi ke antara dua kutub besar. Kelompok pertama adalah mereka yang memusatkan analisis pada konflik sebagai penyebab perubahan sosial. Kelompok lainnya menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Aman jika mengatakan pisau analisis kedua-lah yang pantas digunakan untuk membedah kasus tawuran antarfans klub di atas. Grup berbasis hobi memang tampak solid dari luar, tapi kemungkinan longgarnya ikatan di antara para anggota sangat terbuka seiring kuantitas kelompok yang besar.

Lewis Coser (1913-2003), sosiolog Amerika kelahiran Jerman, merangkum beberapa fungsi konflik. Salah satunya, konflik dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok dan solidaritas itu bisa menghantarnya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain. Solidaritas internal kelompok bisa dipahami dengan sederhana: anggota kelompok merasa dekat tidak hanya karena kesamaan favorit, namun juga karena ada musuh bersama.

Dari sisi fans sepakbola, memaki-maki musuh bebuyutan akan terasa lebih nikmat jika disuarakan bersama entitas lain yang juga anti kepada kubu seberang. Jadi, wajar jika -- misalnya -- Juventus dan Inter memiliki "aliansi" masing-masing karena perjodohan faktor kebencian luar biasa. AC Milan boleh jadi lebih memilih menjadi "teman" Juventus ketimbang harus mendukung saudara, La Beneamata. Fiorentina, yang merupakan musuh Juve karena kasus masa lalu, mungkin lebih girang ketika Inter menguasai Italia pasca Calciopoli.

Perasaan itu kemudian terbawa hingga ke level fans akar rumput. Aliansi antara beberapa kelompok fans klub tak tertulis di atas kertas, namun begitu kental saat acara nobar.

Ajang Kreatif

Terlepas dari semua itu, kita pantang memberi stigma pada kelompok suporter klub asing yang sangat marak menampilkan dirinya dalam beberapa tahun terakhir. Jangan pula menepikan berbagai aktivitas sosial yang mereka lakukan, minimal untuk kebaikan komunitas mereka. Namun, kemunculan kasus minor yang memalukan tersebut tetap harus dianggap sebagai alarm. Darah muda memang rentan akan gesekan, tapi sungguh sukar dicerna nalar kalau emosi tergadaikan karena tontonan TV yang aktor-aktornya bukan dari negeri sendiri.

Mendukung tim idola punya kenikmatan tersendiri, tentu saja, apalagi jika disuarakan lewat bahasa kolektif. Namun, kehidupan tetap punya koridor tertentu yang jangan sampai diloncati demi dalih kemaslahatan. Kata 'persaudaraan' memang selalu indah terdengar, tapi susah setengah mati kala dipraktekkan kala klub-klub idola bentrok.

Jangan lupa, Javier Zanetti, Giampaolo Pazzini, Franco Baresi dan Paolo Maldini mengaku terkagum-kagum dengan aura luar biasa yang ditunjukkan fans Inter dan Milan ketika klub mereka menyambangi Jakarta beberapa waktu lalu.

Beragam contoh positif masih banyak lagi, menunjukkan kalau ruang untuk "mode tawuran" sebenarnya lebih sempit ketimbang kreativitas mereka dalam mengelola aktivitas kelompok.

Semoga fanatisme pada klub-klub asing tidak sampai menggerogoti rasionalitas. Just enjoy it.


Glory - Glory Man United

Tidak ada komentar:

Posting Komentar