\

Selasa, 02 April 2013

Mempersoalkan Perdagangan Sepakbola



Dulu, setiap anak yang hobi main bola pasti pernah bermain dengan sandal jepit, kaus atau tumpukan daun-daun jadi pengganti atau penanda tiang gawang. Tak ada mistar gawang, tak ada tiang gawang. Akibatnya, sebuah tendangan itu berbuah gol atau tidak seringkali tak jelas. Insiden macam itu akan diselesaikan melalui konsensus, dengan cara cepat, tak memakan waktu lama, tahu sama tahu.

Itulah wajah sepakbola yang masih "murni", ketika permainan dihayati bukan sekadar menang-kalah atau untung-rugi. Orang-orang Inggris punya idiom tersendiri untuk fenomena itu. Mereka menyebutnya dengan istilah "jumpers for goalposts".

Buku Jumpers for Goalposts -- selanjutnya ditulis "Jumpers" saja -- bukanlah tentang permainan tanpa tiang dan mistar gawang. Buku ini justru memaparkan betapa mahal dan seringkali tak masuk akalnya harga yang harus dibayar setiap fans sepakbola di Inggris jika ingin menonton 22 orang berusaha menceploskan bola di antara tiang dan mistar gawang lawannya.


Itulah sebabnya buku ini diberi sub-judul: How Football Sold It's Soul. Memangnya bagaimana sih, sepakbola memperdagangkan jiwanya sendiri?

Ditulis oleh Rob Smyth, kolomnis sepakbola di koran bergengsi The Guardian sekaligus seorang fans MUFC (Manchester United Football Corporate), dan Georgina Turner, seorang peneliti media, Jumpers mencoba menggeledah anatomi sepakbola Inggris, khususnya setelah era Premier League dimulai pada 1992. Hasilnya: sebuah buku yang kaya dengan sindiran, satire, lelucon dan fakta-fakta menarik, unik dan kadang menyebalkan mengenai sepakbola Inggris, tepatnya industri sepakbola Inggris.

Perdagangan jiwa sepakbola Inggris ini dimulai pada 1992, saat Premier League dimulai. Sejak saat itu, bagi kedua penulis Jumpers, lapangan sepakbola telah berubah tak ubahnya lantai bursa. Klub-klub sepakbola Inggris berupaya sekuat tenaga mengeruk celah komersial yang "disediakan" terutama oleh duo center-back: suporter dan hak siar.

Bagaimana sepakbola memperdagangkan jiwanya diilustrasikan melalui beberapa contoh. Jika pada 1986, masih di era Football League, 92 klub menyepakati nilai hak siar selama 2 tahun senilai 6,3 juta pounds; pada 2009 di era Premier League, 20 klub menyepakati nilai hak siar sebesar 1,7 miliar poundsterling.

Contoh lain adalah dua era berbeda kepemimpinan Kenny Dalglish di Liverpool. Saat mengambil-alih posisi Rafa Benitez, dia menghabiskan 80 juta pound untuk membeli Jordan Henderson, Andy Carroll, Stewart Downing dan Charlie Adam. Sementara pada 1987, Kenny membangun salah satu tim terbaik Liverpool dengan membeli John Barnes, John Aldridge, Ray Haughton dan Peter Beardsley dengan total hanya 5,5 juta pound.

Inilah era di mana Barcelona, klub yang mengaku "lebih dari sekadar klub" seraya mengklaim dirinya sebagai pewaris kehormatan dan (spirit) pembebasan bangsa Catalonia, justru menyewakan jersey-nya untuk diisi nama negara lain, Qatar, demi meraup 166 juta pound lebih. Inilah juga era di mana Manchester United, hampir bersamaan dengan momen masuknya mereka ke lantai bursa, menghapus kata "Football Club" di badge-nya. MUFC, Manchester United Football Corporate.


Gelimang uang dalam perdagangan bebas jiwa sepakbola berimbas pada banyak hal, dari mulai pendekatan terhadap taktik sampai mentalitas pemain. Saya akan uraikan beberapa contoh yang diungkapkan buku Jumpers ini.

Bagaimana sepakbola modern yang telah diperdagangkan ini mengubah pendekatan dan cara bermain dijelaskan dengan gamblang oleh pertanyaan Jose Mourinho pada para pemain Chelsea jelang final Piala FA 2007. Mou saat itu bertanya pada anak buahnya: "Do you want to enjoy the game or do you want to enjoy after the game?"

Sudah jelas bedanya jika pertanyaan itu diajukan pada Garrincha, Socrates atau Cruyff dengan jika diajukan pada John Terry atau Michael Essien. Sudah pasti juga Zdenek Zeman tak akan mengajukan pertanyaan ala Mourinho itu -- tidak saat ia memimpin Foggia pada 1991/1992, juga tidak saat ia memimpin (dan akhirnya dipecat) AS Roma pada musim 2012/2013 ini.

Di musim pertamanya memimpin Foggia di Serie A pada 1991/1992, Zeman membawa timnya sanggup mencetak 58 gol. Dalam 25 tahun terakhir saat itu, hanya 3 tim yang mampu mencetak gol lebih dari 58 gol. Foggia sendiri hanya menempati peringkat 9 di klasemen akhir, tapi torehan golnya hanya kalah dari "the dream team" AC Milan yang musim itu menjadi juara dengan tanpa terkalahkan. Saat itu, tim asuhan Zeman sampai dijuluki "Foggia dei miracoli" (Mukjizat Foggia). Penulis buku ini sama sekali tak menerjemahkan "Foggia dei miracoli". Di situ hanya ditulis: "No translation is needed, they will be remembered forever."

Ya, hasil akhir menjadi sangat didambakan, bukan karena hasil akhir akan menjamin kegemilangan yang bersejarah, melainkan karena hasil akhir yang memuaskan akan berbanding lurus dengan laba dan pemasukan.

Gelimang uang ini juga berimbas pada mentalitas pemain. Selebritas memang bukan barang baru dalam sepakbola modern. George Best puluhan tahun sebelum era Premier League sudah menikmati status sebagai pesohor. Bedanya, sebagaimana diuraikan dengan sinisme yang tanpa tedeng aling-aling dalam bab berjudul "False Idol", selebrita sepakbola di era sekarang juga dijangkiti oleh narsisme yang kelewat akut.



Jumpers memberi banyak contoh narsisme mengerikan yang melanda para pemain sepakbola Inggris di era Premier League. Pada 2001, penyerang Newcastle United, Carl Cort, diusir dari sebuah supermarket gara-gara menyerobot antrian dengan istrinya berkata sok beken: "Apa kau tidak tahu siapa saya?" Untuk diketahui, Cort hanya bermain sebanyak 22 kali untuk Newcastle selama 4 musim.

Jika contoh itu belum cukup, simaklah apa yang disemburkan mulut El-Hadji Diouf. Pemain Senegal yang dikontrak Liverpool usai bermain bagus di Piala Dunia 2002 itu dengan antengnya mengoceh: "Kamu tidak bisa bicara tentang Senegal tanpa bicara tentang El Hadji Diouf. (Jika anda bicara tentang Senegal tanpa menyebut Diouf) ini seperti kamu ingin memahami sejarah Prancis tanpa berbicara tentang Charles de Gaulle."

Itulah sebagian fakta menarik dari buku Jumpers ini. Penuh dengan anekdot, kata-kata lucu sekaligus filosofis, fragmen-fragmen indah sekaligus konyol, sindiran halus sampai yang sarkas. Seorang penggemar Liga Inggris yang membaca buku ini niscaya akan tertawa sekaligus meringis, menepuk dada sekaligus mengelus dada.

Ya, untuk semua hal-hal macam di atas itu, sepakbola modern Liga Inggris menuntut harga terlalu mahal yang harus dibayarkan oleh para fans, tak peduli itu fans karbitan yang datang dari Asia atau fans tradisional yang sudah berdiri di tribun turun temurun dari sejak kakeknya.

Bagi seorang fans tradisional, perubahan ini membuat sepakbola Inggris kian jauh dari kultur kelas pekerja yang jadi akar dalam sejarah sepakbola Inggris. "Gara-gara kalian," kata seorang fans asli Inggris pada fans dari Asia, "kami harus ke stadion siang hari."

Dengan satire yang tajam, Jumpers menyebut relasi antara para fans dengan kompetisi Liga Inggris dengan sebutan "terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta… dengan para fans yang telah menjadi, untuk pertama dan terakhir, tak lebih dari pendapatan."

Jumpers mungkin mewakili para fans tradisional sepakbola Inggris. Jika surat kabar The Sunday Times pada 1980-an pernah menyebut sepakbola sebagai "a slum sport played in slum stadiums and increasingly watched by slum people", maka buku ini menjawab sarkasme The Sunday Times dengan mengutip kata-kata seorang pebisnis Inggris, Simon Jordan, kalau sepakbola sekarang telah menjadi "dunia omong kosong" (a bullshitt world).

Buku ini jelas menggemakan apa yang belakangan dikenal sebagai kampanye "Against Modern Football", "No Al Calcio Moderno", "Contre Le Football Moderne" atau "Mot Den Moderna Fotbollen". Kampanye perlawanan ini telah berhasil mengusir Tom Hicks dan George Gilette dari Liverpool, sudah menabuh genderang perang melawan penguasaan Glazer di Manchester United yang berujung lahirnya FC United of Manchester.

Malcolm Clark, Ketua Football Supporter's Federation, menyuarakan keberatan suporter atas makin menggilanya komersialisasi sepakbola. "Para suporter," kata Clark kepada BBC akhir 2012, "mempertanyakan mengapa mereka harus membayar harga tiket lebih mahal ketika … upah para pemain justru semakin meningkat."

Survey BBC terhadap 166 klub di Inggris akhir 2012 lalu mengungkapkan fakta betapa rata-rata tiket termurah di empat divisi teratas sepakbola Inggris telah meningkat sebesar 11,7% -- lima kali lipat lebih dari tingkat inflasi. Belum lagi harga jersey dan merchandise lainnya.

Ada sejumlah bantahan yang bisa diajukan pada buku ini. Akan tetapi, menurut hemat saya, buku ini memang tidak berpretensi untuk jadi buku yang terlalu meyakinkan. Buku ini, mula-mula, memang diajukan untuk mereka yang kelewat memuja tontonan sepakbola bertajuk Premier League.

Bagi pembaca Indonesia seperti saya, buku ini memunculkan sebuah pertanyaan menggelitik: jika orang Inggris sana saja sudah banyak yang sebal dengan perdagangan sepakbola ala Premier League, kenapa justru di sini jutaan orang dengan suka rela "menjerembabkan/menyungkurkan diri" pada pusaran perdagangan sepakbola ini?

Saya masih menonton tayangan Premier League di televisi karena memang tidak membenci sepakbola modern. Hanya saja, sebagaimana digemakan buku ini, saya sudah mulai enggan untuk membeli apa yang diperdagangkan sepakbola yang seperti itu.


Glory - Glory Man. United

Tidak ada komentar:

Posting Komentar