\

Jumat, 05 April 2013

David Beckam, Aristokrat Sepakbola



Saya tidak bisa tidak tergelitik saat melihat David Beckham menendang bola di China beberapa hari lalu. Bukan karena tendangannya (dan ia malah terpeleset), melainkan karena pakaian yang dipakainya ketika menendang itu.

Beckham keren seperti biasanya, seperti citra diri yang biasa dia buat selama ini. Rambut licin, badan penuh tato, celana bahan, kemeja yang dimasukkan rapi ke dalam celana, plus dasi dan sepatu pantofel. Ya, Beckham mengenakan semua itu ketika harus memperagakan bagaimana caranya melakukan tendangan bebas.

Boleh saja kita berasumsi bahwa Beckham tidak membawa training kit atau baju latihan. Atau mungkin akan terlalu repot bagi Beckham untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian latihan. Sementara yang dilakukannya hanyalah bagian dari acara sebagai duta besar negara tersebut, tentu dia harus tampil rapi.


Apapun itu, Beckham seperti menunjukkan bahwa dirinya beda sendiri. Ketika pesepakbola lain harus memakai sepatu bola, ber-jersey atau memakai kostum training, maka ia cuek saja melepas jasnya dan hanya tinggal mengenakan kemeja untuk menendang bola. Pekerjaan boleh saja cuma mengoper dan menendang bola, tapi gaya tidak boleh ditinggalkan.

Beckham memang begitu. Dia seperti tidak tahan jika harus sama seperti pesepakbola lainnya. Dia harus berbeda. Ketika pesepakbola lain harus repot-repot pindah ke kota di mana klubnya berada, maka tidak demikian dengannya. Beckham tinggal di London, bekerja untuk tim yang berada di Paris, sementara beberapa hari sebelum timnya bertanding dia sempat-sempatnya terbang ke China untuk menjalankan tugas sebagai brand ambassador.

Yang dilakukannya mirip-mirip dengan gaya selebriti papan atas. Gaya kaum jet set. Makan siang di Roma, tapi makan malam di Paris -- demikian bahasa sederhananya. Kalau tidak salah ingat, gaya seperti sudah nyaris dilakukannya sejak awal kariernya. Bukan rahasia apabila begitu namanya naik, Beckham langsung jadi kesayangan baru tabloid-tabloid Inggris, jadi bintang iklan berbagai brand, mengencani seorang pop star, hingga membeli mobil sport mahal.
Bagaimana cara Beckham memperkenalkan dirinya ke lapangan hijau pun bukan hanya sekadar jadi anggota class of 92 yang tersohor itu. Beckham (harus) beda sendiri. Dibanding dengan Gary Neville, Paul Scholes atau Nicky Butt yang bertampang biasa-biasa saja, Beckham diberkahi wajah tampan. Hal itu masih ditambah kemampuannya -- pada awal-awal keadirannya-- memberikan umpan atau mencetak gol. Salah satu golnya, yang mungkin masih diingat sampai sekarang, adalah golnya ke gawang Wimbledon.

Mereka yang masih mengingatnya mungkin akan merekam dengan jelas di benak bagaimana Beckham muda merentangkan kedua tangannya, berjalan pelan, dengan senyum penuh kebanggaan merekah di wajahnya. Seniornya, Brian McClair, hanya bisa memberikan tepukan di kepalanya. Semua itu dilakukannya setelah mengadali seorang kiper yang lebih tua bernama Neil Sullivan dengan tendangannya dari tengah lapangan. Sungguh sebuah gol yang penuh gaya.

Sir Alex Ferguson sendiri tidak bisa melupakan gol itu. Bukan apa-apa, sebelum gol itu tercipta sang manajer sempat berniat untuk menarik keluar Beckham. "Anda tahu, 10 menit sebelum gol itu dia sempat berusaha mencobanya," cerita Fergie. "Saya bilang ke asisten saya, Brian Kidd, jika dia mencobanya lagi, maka kita tarik dia keluar."

Sepuluh menit setelahnya, terjadilah gol itu. Kali ini giliran Kidd yang mendatangi Fergie dan bertanya, "Jadi, kita tarik dia keluar?"

Fergie tentu tidak jadi menggantinya dengan pemain lain. Tapi, momen di mana Beckham mencetak gol dari tengah lapangan itu membuatnya sadar akan satu hal, bahwa anak didiknya yang ketika itu baru berusia 22 tahun tersebut memang gemar mencari sensasi, menjadi pusat perhatian, sorotan, dan keglamoran.

"Well, Anda tahu, David kadang-kadang suka besar kepala dan saya selalu berusaha untuk membuat kakinya tetap menjejak tanah," ucap Fergie.

Bertahun-tahun setelah gol itu, Beckham menahbiskan diri sebagai ikon Old Trafford, ikon sepakbola Inggris, dan bahkan ikon sepakbola sendiri. Jika di basket ada Michael Jordan, maka di sepakbola ada David Beckham. Setidaknya, buat mereka yang pada masa itu baru ingin mengenali sepakbola, maka dia bisa melihatnya dari Beckham dulu. Tidak sulit untuk melakukannya. Siapa sih yang tidak kenal Beckham pacar anggota Spice Girls itu?

Sampai hari ini, Beckham telah membuat jalan yang ditempuhnya menjadi cerita yang selalu enak dibahas. Entah bagaimana dia membuat nomor 7 jadi populer, atau membuat nomor 23 tidak kalah keren dari nomor 7. Entah bagaimana juga dia membuat bermain di Amerika Serikat, yang notabene bukan negara di mana sepakbola tidak jadi nomor satu, jadi terlihat sesuatu yang biasa. Beckham adalah hipster-nya sepakbola.

Ketika banyak pemain bermain di MLS ketika kariernya sudah hampir habis, tidak demikian halnya dengan Beckham. Dia masih sempat-sempatnya bermain di Eropa bersama AC Milan ketika liga itu libur. Bahkan ketika kontraknya dengan Los Angeles Galaxy habis, dia kembali bermain di Eropa, kali ini bersama Paris St Germain yang tengah membangun kekuatan itu.

Tidak sedikit yang menilai kedatangan Beckham ke PSG hanyalah upaya untuk mengangkat citra klub itu. Apalagi ditambah cerita bahwa Beckham tidak mengambil bayarannya dan dia menyumbangkan semuanya pada anak-anak yang membutuhkan. Jesse Fink, salah satu kolomnis Fox Sports, bahkan sampai menyebutnya hanyalah akal-akalan pihak Qatar --yang dekat dengan pemilik PSG -- mencari simpati demi Piala Dunia yang akan digelar di negara mereka. Sementara itu, Piers Morgan, seorang presenter televisi CNN, menyebut kedatangan Beckham hanyalah marketing scam.

Tidak ada yang salah dengan opini-opini atau tudingan-tudingan itu. Faktanya, Beckham sendiri memang pintar menjual namanya sendiri. Jika sepakbola adalah sebuah produk, maka Beckham, seperti halnya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, adalah brand yang punya diferensiasi produk tersendiri, punya brand personality-nya sendiri, yang membuatnya beda dengan brand-brand lain dalam produk sejenis.

Salah seorang profesor bisnis strategi olahraga dari Universitas Coventry, Simon Chadwick, bahkan rela mempelajari apa yang dilakukan Beckham dalam tahun-tahun terakhir ini. Kepada Reuters, dia mengatakan bahwa kepindahan Beckham ke PSG tidak lebih dari kebutuhan klub itu akan sebuah substansi. PSG yang tengah membangun diri menjadi klub besar -- juga menjadi perusahaan penarik uang baru dengan kedok klub sepakbola -- itu punya aspirasi, tapi mereka butuh substansi yang bisa melekatkan mereka pada sepakbola itu sendiri. Maka jadilah Beckham mereka gaet.

"Beckham adalah aristokrat sepakbola. Dia punya warisan mendalam dan trek rekor panjang," kata Chadwick.


Terlepas dari segala marketing scam hingga penelitian ala universitas itu, Beckham toh masih bisa menunjukkan bahwa dia digaet dengan alasan sepakbola. Rabu (3/3/2013) dinihari kemarin, Carlo Ancelotti lebih memilih memainkannya ketimbang Marco Veratti. Padahal Veratti yang jago melepas operan panjang itu bisa digunakan untuk menggebuk Barcelona, yang terkenal rawan menerima umpan-umpan silang.

Nyatanya, Beckham tampil tenang, tampil kalem, dan tampil penuh perhitungan. Dalam duel yang sepenting itu, dan dalam usianya yang sudah nyaris 38, dia masih bisa bertarung menghadapi gelandang-gelandang semodel Xavi Hernandez atau Andres Iniesta. Di babak pertama, dia sukses melepas 13 passing sukses dari 18 passing atau dengan tingkat akurasi mencapai 72%. Tidak buruk. Ancelotti menilainya tidak sensasional, tapi memuaskan.

Yah, memang begitulah Beckham.

"Penulis hanya fans Beckham karena dia pernah bermain untuk Manchester United"

Glory - Glory Man United

Tidak ada komentar:

Posting Komentar