\

Senin, 08 April 2013

Benak Fergie yang Tak Terterka



Sulit untuk memberikan tepuk tangan kepada Manchester United pada laga dinihari tadi, Selasa (9/4/2013). Lebih sulit lagi untuk mengetahui apa ada yang ada di benak Sir Alex Ferguson yang sulit untuk diterka.

Sebelum menghadapi Manchester City, catatan United adalah sebagai berikut: kalah 1-2 dari Real Madrid, bermain imbang 2-2 melawan Chelsea, menang masing-masing 1-0 atas Reading dan Sunderland, lalu terakhir kalah 0-1 dari Chelsea. Dua kali menang, satu kali imbang, dan dua kali kalah. Tidak cukup untuk disebut luar biasa.

Namun, apa yang lebih mengkhawatirkan dari itu adalah bagaimana United bermain. Robin van Persie sedang berhenti mencetak gol, sementara sayap-sayap United yang kerap diandalkan Ferguson sebagai tumpuan serangan sama tumpulnya dan suka bikin frustrasi. Jangan heran kalau kemudian Si Setan penguasa Premier League ini hanya menang tipis atas Reading dan Sunderland.

Ada ekspektasi berbeda ketika mereka akan bertanding menghadapi City. Ini adalah derby melawan rival sekota, di mana kemenangan akan membuat mental Anda naik setinggi langit. Mengingat garis finis sudah terlihat di ujung jalan, bukankah itu sebuah hal yang maha penting? Dan bukankah godaan untuk unggul 18 poin adalah sesuatu yang sulit untuk ditolak?

Saya tidak bisa mengelak dari pendapat bahwa derby yang (bisa dibilang) kalah romantis dibanding derby-derby lain semisal Lazio-AS Roma atau Boca Juniors-River Plate di belahan dunia lainnya. Kalah romantis dalam artian atmosfernya tidak se-membahana atau sepanas dua derby yang disebut lainnya. Rival memang iya, tapi bisa jadi itu pun muncul hanya karena United dan City berada dalam satu kota. Bandingkan lagi misalnya dengan United dan Liverpool, yang tautannya bahkan sampai membawa-bawa persaingan sejarah era industri di Inggris antara kota Manchester dan Liverpool.

Tapi, saya juga tidak bisa menyangkal bahwa sejak City muncul sebagai kekuatan baru di Premier League, derby Manchester menjadi salah satu yang ditunggu --setidaknya oleh para penikmatnya. City bak jadi simbol perlawanan tiran atas United, yang sebegitu berkuasanya di Premier League dan sebegitu ingin dijatuhkannya oleh tim-tim lain. Percayalah, ini nyaris sama seperti ketika Ferguson ingin menjatuhkan Liverpool dari takhtanya. Sejarah berulang.


Dengan derby Manchester menjadi hal yang antisipatif, baik Ferguson maupun Roberto Mancini tentu diharapkan menyiapkan tim terbaik mereka. City tentu saja dengan Vincent Kompany dan Pablo Zabaleta di lini belakang, Yaya Toure, David Silva, Samir Nasri di tengah, dan Carlos Tevez atau Sergio Aguero di lini depan. United, di lain pihak, adalah Van Persie dan Wayne Rooney, lalu tambahkan Danny Welbeck dan Shinji Kagawa, kemudian Michael Carrick dan Tom Cleverley, terakhir adalah duet Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic, atau mungkin salah satunya.

Mancini melakukan seperti apa yang diprediksikan. Tetapi Ferguson tidak. Ada Ryan Giggs di sana, ada pula Ashley Young. Sementara di hadapan David De Gea dipasang Ferdinand dan Phil Jones. Jones memang kerap tampil bagus, tapi duetnya dengan Ferdinand membuat De Gea bermain dengan kombinasi back four yang berbeda untuk ke-22 kalinya musim ini. Mungkin tidak ada masalah di situ, tapi pemilihan Giggs dan Young, sementara Cleverley dan Kagawa dicadangkan, adalah sesuatu yang dipertanyakan.

Kagawa adalah pemain yang dinilai Ferguson sebagai pemain jenius. Sang gaffer menyebut gelandang asal Jepang itu tak hanya punya visi bagus, tapi juga insting mencetak gol yang mumpuni. Dia bisa bermain di tiga posisi attacking midfielder yang berbeda, entah di tengah atau kedua sayap --kendati posisi terbaiknya tetaplah di tengah. Hal itu pun menjadikan Kagawa pemain yang relatif berbahaya di final third. Lalu, mengapa Ferguson tidak memainkannya? Benak The Scotsman memang sulit untuk ditebak.

Pemilihan Welbeck di sisi kanan memang bisa diterka alasannya. Dia dipilih tidak hanya untuk menyerang, tetapi juga mendapatkan plot untuk bertahan, membantu Rafael da Silva meladeni Samir Nasri dan Gael Clichy yang kerap naik ke depan. Young di sisi kiri bisa jadi juga demikian. Hanya saja, entah beberapa kali di babak pertama Zabaleta berada dalam posisi lowong, membuat Patrice Evra harus bekerja ekstra.

Nyaris tak ada apa-apa di babak pertama. Kecuali catatan bahwa Yaya Toure mampu mengorganisir lini tengah City dengan baik, membuat Gareth Barry dan Silva leluasa bergerak membantu rekannya di kedua sayap, atau menjadi pemain tambahan di depan atau di dalam kotak penalti United. Toure juga dengan apik mengembalikan penguasaan bola ke tangan City ketika mereka kehilangan. Toure melepaskan 43 passing di babak pertama, lebih banyak dari pemain-pemain United lainnya. Ketiadaaan pemain seperti Toure di kubu United menjadi pembeda, Giggs dan Carrick tidak kelihatan, United pun terpaksa harus bermain melebar.


Giggs jugalah yang mengawali terjadinya gol pertama City. The Welsh Wizard memang masih punya sisa-sisa kejayaan, tapi mari kita sebut saja bahwa ini bukan harinya. Operan yang dilakukannya dengan tumit terebut dan City langsung merangsek naik. Pererakan ini diakhiri dengan tendangan James Milner yang berdiri tidak jauh dari kotak penalti United. Gol pun tercipta, De Gea gagal melanjutkan catatan clean sheet-nya.

Gol Milner pun membersitkan perbedaan lain dari kedua tim. Ketika pemain City begitu rajin menusuk dari sisi sayap dan mengepung kotak penalti, hal sebaliknya tidak terjadi pada kubu United. Ketiadaan attacking midfielder murni membuat United terlihat sulit melepaskan tembakan dari jarak sedikit di luar kotak penalti City, seperti yang dilakukan oleh Milner. 'Setan Merah' memang punya 5 shots on target sepanjang laga, tapi kebanyakan berawal dari serangan di sisi sayap.

Catatan lainnya, City bermain dengan garis pertahanan relatif tinggi, membuat tembakan seperti Milner sulit dilakukan dan para pemain United setidaknya 3 kali terperangkap offside. Sebaliknya, United kerap bertahan terlalu dalam. City tercatat hanya terjebak 1 kali offside dan gol Aguero pun menunjukkan hal demikian. Penyerang asal Argentina itu bebas menerima operan dari lini kedua lantaran ada banyak ruang, berlari ke dalam kotak penalti, dan melewati tiga pemain United. Dua centre back United, Jones dan Ferdinand berdiri di dalam kotak, sementara yang mengejar Aguero adalah Welbeck.

Ketika timnya sudah tertinggal 1-2, Ferguson bergerak dengan memasukkan Antonio Valencia dan Javier Hernandez. Sementara Kagawa baru dimainkan setelah Young cedera.. terlambat 91 menit. United akhirnya kalah 1-2. City tercatat tampil lebih dominan dan lebih efektif. Mereka hanya punya 3 shots on target dan dua di antaranya berbuah menjadi gol.
Setelah pertandingan, Ferguson menyebut bahwa timnya sebetulnya tidak bermain jelek. Tapi, keputusannya dalam soal memilih pemain dan memberlakukan taktik sudah kadung menuai kritik. Beberapa blog pendukung United via Twitter menyebut, tidak ada salahnya Ferguson untuk sementara meninggalkan para pemain sayap dan kembali pada formasi diamond dengan Carrick-Cleverley-Anderson-Kagawa di lini tengah, yang dulu sempat membuat United begitu efektif.

Di sisi lain, jarak 12 poin memang tidak dekat. Tapi, dengan performa United yang seperti sekarang, tandang ke Stoke City dan West Ham United setelah ini membuat semuanya menjadi tricky. Belum lagi setelahnya United masih harus menghadapi Arsenal dan Chelsea. Kekhawatiran merebak. Ingatan di belakang kepala bahwa City musim lalu mengejar defisit delapan poin muncul.

Tapi, ah.. Mungkin Fergie yang kawakan itu sudah punya rencana lain di benaknya.


Glory - Glory Man United

Jumat, 05 April 2013

David Beckam, Aristokrat Sepakbola



Saya tidak bisa tidak tergelitik saat melihat David Beckham menendang bola di China beberapa hari lalu. Bukan karena tendangannya (dan ia malah terpeleset), melainkan karena pakaian yang dipakainya ketika menendang itu.

Beckham keren seperti biasanya, seperti citra diri yang biasa dia buat selama ini. Rambut licin, badan penuh tato, celana bahan, kemeja yang dimasukkan rapi ke dalam celana, plus dasi dan sepatu pantofel. Ya, Beckham mengenakan semua itu ketika harus memperagakan bagaimana caranya melakukan tendangan bebas.

Boleh saja kita berasumsi bahwa Beckham tidak membawa training kit atau baju latihan. Atau mungkin akan terlalu repot bagi Beckham untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian latihan. Sementara yang dilakukannya hanyalah bagian dari acara sebagai duta besar negara tersebut, tentu dia harus tampil rapi.


Apapun itu, Beckham seperti menunjukkan bahwa dirinya beda sendiri. Ketika pesepakbola lain harus memakai sepatu bola, ber-jersey atau memakai kostum training, maka ia cuek saja melepas jasnya dan hanya tinggal mengenakan kemeja untuk menendang bola. Pekerjaan boleh saja cuma mengoper dan menendang bola, tapi gaya tidak boleh ditinggalkan.

Beckham memang begitu. Dia seperti tidak tahan jika harus sama seperti pesepakbola lainnya. Dia harus berbeda. Ketika pesepakbola lain harus repot-repot pindah ke kota di mana klubnya berada, maka tidak demikian dengannya. Beckham tinggal di London, bekerja untuk tim yang berada di Paris, sementara beberapa hari sebelum timnya bertanding dia sempat-sempatnya terbang ke China untuk menjalankan tugas sebagai brand ambassador.

Yang dilakukannya mirip-mirip dengan gaya selebriti papan atas. Gaya kaum jet set. Makan siang di Roma, tapi makan malam di Paris -- demikian bahasa sederhananya. Kalau tidak salah ingat, gaya seperti sudah nyaris dilakukannya sejak awal kariernya. Bukan rahasia apabila begitu namanya naik, Beckham langsung jadi kesayangan baru tabloid-tabloid Inggris, jadi bintang iklan berbagai brand, mengencani seorang pop star, hingga membeli mobil sport mahal.
Bagaimana cara Beckham memperkenalkan dirinya ke lapangan hijau pun bukan hanya sekadar jadi anggota class of 92 yang tersohor itu. Beckham (harus) beda sendiri. Dibanding dengan Gary Neville, Paul Scholes atau Nicky Butt yang bertampang biasa-biasa saja, Beckham diberkahi wajah tampan. Hal itu masih ditambah kemampuannya -- pada awal-awal keadirannya-- memberikan umpan atau mencetak gol. Salah satu golnya, yang mungkin masih diingat sampai sekarang, adalah golnya ke gawang Wimbledon.

Mereka yang masih mengingatnya mungkin akan merekam dengan jelas di benak bagaimana Beckham muda merentangkan kedua tangannya, berjalan pelan, dengan senyum penuh kebanggaan merekah di wajahnya. Seniornya, Brian McClair, hanya bisa memberikan tepukan di kepalanya. Semua itu dilakukannya setelah mengadali seorang kiper yang lebih tua bernama Neil Sullivan dengan tendangannya dari tengah lapangan. Sungguh sebuah gol yang penuh gaya.

Sir Alex Ferguson sendiri tidak bisa melupakan gol itu. Bukan apa-apa, sebelum gol itu tercipta sang manajer sempat berniat untuk menarik keluar Beckham. "Anda tahu, 10 menit sebelum gol itu dia sempat berusaha mencobanya," cerita Fergie. "Saya bilang ke asisten saya, Brian Kidd, jika dia mencobanya lagi, maka kita tarik dia keluar."

Sepuluh menit setelahnya, terjadilah gol itu. Kali ini giliran Kidd yang mendatangi Fergie dan bertanya, "Jadi, kita tarik dia keluar?"

Fergie tentu tidak jadi menggantinya dengan pemain lain. Tapi, momen di mana Beckham mencetak gol dari tengah lapangan itu membuatnya sadar akan satu hal, bahwa anak didiknya yang ketika itu baru berusia 22 tahun tersebut memang gemar mencari sensasi, menjadi pusat perhatian, sorotan, dan keglamoran.

"Well, Anda tahu, David kadang-kadang suka besar kepala dan saya selalu berusaha untuk membuat kakinya tetap menjejak tanah," ucap Fergie.

Bertahun-tahun setelah gol itu, Beckham menahbiskan diri sebagai ikon Old Trafford, ikon sepakbola Inggris, dan bahkan ikon sepakbola sendiri. Jika di basket ada Michael Jordan, maka di sepakbola ada David Beckham. Setidaknya, buat mereka yang pada masa itu baru ingin mengenali sepakbola, maka dia bisa melihatnya dari Beckham dulu. Tidak sulit untuk melakukannya. Siapa sih yang tidak kenal Beckham pacar anggota Spice Girls itu?

Sampai hari ini, Beckham telah membuat jalan yang ditempuhnya menjadi cerita yang selalu enak dibahas. Entah bagaimana dia membuat nomor 7 jadi populer, atau membuat nomor 23 tidak kalah keren dari nomor 7. Entah bagaimana juga dia membuat bermain di Amerika Serikat, yang notabene bukan negara di mana sepakbola tidak jadi nomor satu, jadi terlihat sesuatu yang biasa. Beckham adalah hipster-nya sepakbola.

Ketika banyak pemain bermain di MLS ketika kariernya sudah hampir habis, tidak demikian halnya dengan Beckham. Dia masih sempat-sempatnya bermain di Eropa bersama AC Milan ketika liga itu libur. Bahkan ketika kontraknya dengan Los Angeles Galaxy habis, dia kembali bermain di Eropa, kali ini bersama Paris St Germain yang tengah membangun kekuatan itu.

Tidak sedikit yang menilai kedatangan Beckham ke PSG hanyalah upaya untuk mengangkat citra klub itu. Apalagi ditambah cerita bahwa Beckham tidak mengambil bayarannya dan dia menyumbangkan semuanya pada anak-anak yang membutuhkan. Jesse Fink, salah satu kolomnis Fox Sports, bahkan sampai menyebutnya hanyalah akal-akalan pihak Qatar --yang dekat dengan pemilik PSG -- mencari simpati demi Piala Dunia yang akan digelar di negara mereka. Sementara itu, Piers Morgan, seorang presenter televisi CNN, menyebut kedatangan Beckham hanyalah marketing scam.

Tidak ada yang salah dengan opini-opini atau tudingan-tudingan itu. Faktanya, Beckham sendiri memang pintar menjual namanya sendiri. Jika sepakbola adalah sebuah produk, maka Beckham, seperti halnya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, adalah brand yang punya diferensiasi produk tersendiri, punya brand personality-nya sendiri, yang membuatnya beda dengan brand-brand lain dalam produk sejenis.

Salah seorang profesor bisnis strategi olahraga dari Universitas Coventry, Simon Chadwick, bahkan rela mempelajari apa yang dilakukan Beckham dalam tahun-tahun terakhir ini. Kepada Reuters, dia mengatakan bahwa kepindahan Beckham ke PSG tidak lebih dari kebutuhan klub itu akan sebuah substansi. PSG yang tengah membangun diri menjadi klub besar -- juga menjadi perusahaan penarik uang baru dengan kedok klub sepakbola -- itu punya aspirasi, tapi mereka butuh substansi yang bisa melekatkan mereka pada sepakbola itu sendiri. Maka jadilah Beckham mereka gaet.

"Beckham adalah aristokrat sepakbola. Dia punya warisan mendalam dan trek rekor panjang," kata Chadwick.


Terlepas dari segala marketing scam hingga penelitian ala universitas itu, Beckham toh masih bisa menunjukkan bahwa dia digaet dengan alasan sepakbola. Rabu (3/3/2013) dinihari kemarin, Carlo Ancelotti lebih memilih memainkannya ketimbang Marco Veratti. Padahal Veratti yang jago melepas operan panjang itu bisa digunakan untuk menggebuk Barcelona, yang terkenal rawan menerima umpan-umpan silang.

Nyatanya, Beckham tampil tenang, tampil kalem, dan tampil penuh perhitungan. Dalam duel yang sepenting itu, dan dalam usianya yang sudah nyaris 38, dia masih bisa bertarung menghadapi gelandang-gelandang semodel Xavi Hernandez atau Andres Iniesta. Di babak pertama, dia sukses melepas 13 passing sukses dari 18 passing atau dengan tingkat akurasi mencapai 72%. Tidak buruk. Ancelotti menilainya tidak sensasional, tapi memuaskan.

Yah, memang begitulah Beckham.

"Penulis hanya fans Beckham karena dia pernah bermain untuk Manchester United"

Glory - Glory Man United

Rabu, 03 April 2013

Bibit Waluyo yang Tinggi Hati & Tak Tau Sopan Santun



Adegan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sungkem, membungkuk, dan mencium tangan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menjelang pelantikan FX Hadi Rudyatmo sebagai Wali Kota Solo, di Kompleks DPRD Solo, Jumat pagi, 19 Oktober 2012, mengejutkan banyak orang. Orang pun bertanya-tanya, kenapa Gubernur DKI Jakarta itu melakukan hal demikian? Apakah itu sebagai isyarat Jokowi meminta maaf kepada Bibit Waluyo, mengingat perselisihan panas yang pernah terjadi di antara mereka tempo hari (2011)?


Perselisihan panas tersebut (2011) terjadi ketika Walikota Solo Jokowi menolak rencana pembangunan mall di atas lahan bangunan kuno bekas pabrik es Saripetojo,  Kampung Jantirejo, padahal dari pihak Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo telah menyetujuinya. Alasan Jokowi menolak pembangunan mall di lokasi tersebut adalah, yang paling utama karena keberadaan mall di sana dikhawatirkan akan menggerus rezeki rakyat kecil yang sudah puluhan tahun berdagang di sekitar lokasi tersebut, dan bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan kuno (didirikan tahun 1888) sehingga layak dijadikan cagar budaya.

Dalam kesehari-hariannya, Jokowi kelihatan seperti sosok yang lugu dan murah senyum dan tawa, tetapi begitu menghadapi persoalan serius, apalagi menyangkut kepentingan rakyat banyak (rakyat kecil), jiwa kepimpinannya langsung muncul. Prinsipnya tak tergoyahkan untuk tetap tidak mengizinkan pembangunan mall di lokasi tersebut, meskipun Gubernur Bibit Waluyo sampai murka dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada Jokowi di depan umum.

Media massa merekam kata-kata kasar Gubernur Bibit Waluyo pada 27 Juni 2011 itu, dan masih bisa dibaca atau didengar kembali saat ini. “Walikota Solo itu bodoh, kebijakan Gubernur kok ditentang. Sekali lagi saya tanya, Solo itu masuk wilayah mana? Siapa yang mau membangun?” amuk Bibit Waluyo ketika itu.

Padahal berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, meskipun lahan Saripetojo merupakan aset/milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, tetapi kewenangan untuk menerbitkan izin usaha berada di tangan Pemerintah Kota Solo.

Merespon makian Gubernur Bibit Waluyo kepada dirinya dengan kata-kata kasar, “Walikota Solo yang bodoh” itu, Jokowi dengan tenang merespon (waktu itu), “Saya memang bodoh, dari dulu saya itu bodoh. Saya juga heran kenapa rakyat memilih orang bodoh jadi walikotanya sampai dua periode.”


Meskipun kelihatan tenang, tetapi dari raut muka dan intonasi kalimat yang diucapkan kedengarannya Jokowi tersinggung dan marah juga disebut “bodoh” di depan umum seperti itu. Tetapi, responnya atas pernyataan kasar Gubernur Bibit Waluyo itu sungguh telak menyerang balik Bibit Waluyo. Kata Jokowi, “Saya juga heran kenapa rakyat memilih orang bodoh jadi walikotanya sampai dua periode.”

Dan, memang rakyat Solo ketika itu ramai-ramai mendukung Jokowi, dan marah kepada Bibit Waluyo yang telah mengata-ngatai Jokowi seperti itu.



Wrga Solo berdemo, mengecam makian Bibit Waluyo kepada Jokowi, 2 Juli 2011 (Sumber: pasoepati.com)

Karikatur yang pernah dimuat di Solopos


Perkembangan terakhir, pembangunan mall dipastikan dibatalkan. Diganti dengan rencana pembangunan sebuah hotel bintang empat,  berlantai 20, dengan nama Hotel Saripetojo. Sedangan sebuah bangunan rumah dinas yang berada di kompleks lahan itu tetap dibiarkan berdiri sebagai cagar budaya kota Solo. Keberadaan hotel di lokasi tersebut, dianggap tidak akan menganggu perdagangan rakyat kecil yang berada di sekitar lokasi tersebut. Demikian juga arus lalu-lintasnya tidak akan banyak berubah, daripada keberadaan sebuah mall.


Kembali ke adegan Jokowi membungkuk dan mencium tangan Bibit Waluto tersebut di atas. Pertanda apakah ini? Apakah ini artinya, Jokowi menyesali dan meminta maaf atas “pemberontakannya” terhadap Gubernur Jawa Tengah itu tempo hari?


Bukan. Bukan itu maknanya. Jokowi pun ketika ditanya kenapa melakukan hal itu, menjawab diplomatis bahwa itu pertanda dia menghormati orang yang lebih tua dan lebih senior daripadanya. Jokowi tidak menyinggung perselisihan masa lalu itu. Apalagi ada singgung kata “maaf.”


Sesungguhnya yang terjadi di balik adegan itu adalah Jokowi dengan jiwa besarnya  hendak mengajak Bibit Waluyo untuk rekonsiliasi, melupakan hubungan buruk mereka di masa lalu itu. Dia membungkuk, dan mencium tangan Bibit Waluyo itu sebagai tanda kerendahanhatinya untuk terlebih dahulu mengajak rekonsialisasi itu. Lupakan masa lalu, mari kita bersama melangkah ke masa depan. Begitu kira-kira makna adegan cium tangan tersebut.


Tetapi sayangnya, Bibit Waluyo rupanya tidak cukup berjiwa besar merespon ajakan Jokowi itu. Dendam membara masih tersimpan di dalam hatinya. Ketika Jokowi menjabat tangannya, lantas membungkuk dan mencium tangannya, dia sama sekali tidak bereaksi. Raut mukanya kaku. Bahkan memandang ke arah Jokowi pun tidak. Dia terus melangkah, mengabaikan Jokowi. Seolah-olah Jokowi tidak ada di situ. Jokowi hanya tersenyum, berjalan di belakangnya.

Tidak seharusnya Bibit Waluyo (jas hitam, berpeci) mengabaikan, dan membiarkan Jokowi, Gubernur DKI Jakarta berjalan di belakangnya seperti ini. Terlihat raut muka Bibit yang kaku, seperti menahan marah, dan Jokowi yang ceriah (Sumber: Kompas.com)

Dari gambar (video) yang terekam kamera wartawan, terlihat bahwa wajah Jokowi tetap ceriah dengan senyuman khasnya berjalan di belakang Bibit Waluyo dan FX Hadi Rudyatmo. Sedangkan wajah Bibit Waluyo tetap terlihat kaku, tak tersenyum sedikitpun, seperti menahan marah. Sepatah katapun tak terucapkan dari mulutnya kepada Jokowi.

Indikasi sangat kuat bahwa dendam masih membara di dada Bibit Waluyo adalah pada kesempatan pertemuannya dengan Jokowi itu, dia sama sekali tidak menyalami Jokowi untuk memberi ucapan selamat kepada Jokowi yang telah menjadi Gubernur DKI Jakarta yang baru.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo lupa bahwa kini kedudukan Jokowi itu sejajar dengan dirinya, sama-sama seorang Gubernur. Jokowi datang ke Solo sebagai Gubernur DKI Jakarta, sebagai tamunya. Seharusnya Bibit Waluyo itu sebagai tuan rumah, tahu sopan-santun, dengan menghargai kedatangan Gubernur DKI Jakarta itu. Tidak seharusnya dia membiarkan Jokowi berjalan di belakangnya (seolah-olah Jokowi itu ajudannya), dan mengabaikannya seperti itu.


Sebenarnya, kalau mau dilihat lebih dalam lagi, sesungguhnya meskipin sama-sama sebagai Gubernur, posisi Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta lebih istimewa dan lebih “bergengsi” daripada Bibit Waluyo yang adalah Gubernur Jawa Tengah itu.


Jokowi adalah Gubernur dari Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Sebagai Gubernur DKI Jakarta, oleh UU dia mempunyai kewenangan yang lebih luas daripada semua gubernur di daerah lain di Indonesia. Hanya Gubernur DKI Jakarta yang mempunyai kewenangan untuk mengangkat dan memberhentikan mulai dari seorang Lurah sampai dengan Walikota di wilayah DKI Jakarta Raya. Sedangkan gubernur lain, termasuk Gubernur Jawa Tengah tidak mempunyai kewenangan seperti itu. Mereka tidak berwenang mengangkat dan memberhentikan seorang Lurah, apalagi Walikota meskipun berada di dalam wilayah provinsinya.


Mungkin faktor inilah yang membuat Bibit Waluyo semakin antipati terhadap Jokowi. Ada unsur dendam, ada pula unsur cemburu. Apalagi sekarang ini Jokowi semakin populer di seantero Indonesia. Bayangkan, orang yang mungkin paling dibenci sedunia itu, sekarang malah menjadi Gubernur DKI Jakarta, sangat populer se-Indonesia, dan sangat dicintai oleh warga DKI pula.

Kini, “Walikota bodoh” itu bukan hanya dipilih rakyat Solo sampai dua periode, sekarang malah naik naik tingkat, dengan dipilih lagi oleh rakyat Jakarta sebagai Gubernur mereka. Gubernur dari Ibukota Negara Republik Indonesia.

Sayang, tidak ada wartawan yang bertanya langsung kepada Bibit Waluyo kenapa dia masih marah, bermuka masam, dan tidak menghargai Gubernur DKI Jakarta Jokowi seperti itu? Tapi, kayaknya memang dia tidak mau memberi kesempatan kepada wartawan untuk itu. Tidak mau lama-lama berada di dekat Jokowi. Maka itu seusai acara pelantikan FX Hadi Rudyantmo sebagai Walikota Solo itu, Bibit Waluyo langsung meninggalkan Gedung DPRD Solo. Katanya, langsung pergi ke kota lain untuk memenuhi acara lainnya.

Meskipun jabatan Jokowi sudah sejajar dengannya (sama-sama Gubernur), bahkan  sebenarnya lebih bergengsi daripadanya, Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah itu masih tetap tinggi hati terhadap Jokowi. Dia seolah-olah masih merasa posisinya lebih tinggi daripada Jokowi. Sebaliknya, Jokowi tetap rendah hati meskipun telah mencapai posisi yang sedemikian tinggi.

Teringatlah saya perkataan Yesus di Injil: “Siapa yang meninggikan dirinya, akan direndahkan. Dan, siapa yang merendahkan dirinya, akan ditinggikan.”


Itulah pandangan publik terhadap Bibit Waluyo dan Jokowi. Bibit yang tinggi hati, direndahkan oleh publik. Jokowi yang rendah hati, ditinggikan (dihargai dan disegani) oleh publik. ***

Fans Layar Kaca



Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kabar bentrokan antara fans Barcelona dan Real Madrid di Yogyakarta, atau tawuran tifosi Juventus dan Inter Milan di Manado?

Mungkin kita bisa maklum apabila kelompok-kelompok suporter klub-klub lokal berbasis massa besar rajin mencuri atensi. Tapi bagaimana jika letupan emosi yang menjadi pelatuk konflik itu justru berasal dari tim-tim yang hanya bisa disaksikan dari layar kaca?

Pada Sabtu tengah malam, 2 Maret 2013, para fans layar kaca itu gontok-gontokan di Yogyakarta, setelah tersaji siaran langsung El Clasico. Kabarnya, kadar tawuran antara fans Barcelona dan Madrid itu hampir menyamai konflik antarsuporter "ala" klub-klub di tanah air.

Media jejaring sosial macam twitter jadi pusat penghakiman massa. Yogja seolah-olah merebut fokus para peselancar dunia maya dari partai klasik itu sendiri. Acara nonton bareng yang seyogyanya cukup menjadi ajang "adu gengsi" atau "adu narsis" fans dua klub rival itu, menemui pembelokan makna. Pertandingannya terjadi puluhan ribu mil nun jauh di sana, bentrokannya justru terjadi di sini.

Kekonyolan serupa terjadi di sebuah kawasan di kota Manado, Sulawesi Utara, pada 30 Maret lalu, sehabis pertandingan Inter vs Juventus, yang berakhir 2-1 untuk Bianconeri. Setelah nobar, suporter kedua kesebelasan saling ejek, lalu saling pukul dan kemudian lempar-lemparan batu.

Konflik penting untuk solidaritas?

Mari berselancar sejenak lewat analisa ilmu sosial tentang konflik, entah itu konflik berlevel ecek-ecek hingga yang berskala besar. Dalam kacamata sosiologi, para pencetus teori konflik terbagi ke antara dua kutub besar. Kelompok pertama adalah mereka yang memusatkan analisis pada konflik sebagai penyebab perubahan sosial. Kelompok lainnya menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Aman jika mengatakan pisau analisis kedua-lah yang pantas digunakan untuk membedah kasus tawuran antarfans klub di atas. Grup berbasis hobi memang tampak solid dari luar, tapi kemungkinan longgarnya ikatan di antara para anggota sangat terbuka seiring kuantitas kelompok yang besar.

Lewis Coser (1913-2003), sosiolog Amerika kelahiran Jerman, merangkum beberapa fungsi konflik. Salah satunya, konflik dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok dan solidaritas itu bisa menghantarnya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain. Solidaritas internal kelompok bisa dipahami dengan sederhana: anggota kelompok merasa dekat tidak hanya karena kesamaan favorit, namun juga karena ada musuh bersama.

Dari sisi fans sepakbola, memaki-maki musuh bebuyutan akan terasa lebih nikmat jika disuarakan bersama entitas lain yang juga anti kepada kubu seberang. Jadi, wajar jika -- misalnya -- Juventus dan Inter memiliki "aliansi" masing-masing karena perjodohan faktor kebencian luar biasa. AC Milan boleh jadi lebih memilih menjadi "teman" Juventus ketimbang harus mendukung saudara, La Beneamata. Fiorentina, yang merupakan musuh Juve karena kasus masa lalu, mungkin lebih girang ketika Inter menguasai Italia pasca Calciopoli.

Perasaan itu kemudian terbawa hingga ke level fans akar rumput. Aliansi antara beberapa kelompok fans klub tak tertulis di atas kertas, namun begitu kental saat acara nobar.

Ajang Kreatif

Terlepas dari semua itu, kita pantang memberi stigma pada kelompok suporter klub asing yang sangat marak menampilkan dirinya dalam beberapa tahun terakhir. Jangan pula menepikan berbagai aktivitas sosial yang mereka lakukan, minimal untuk kebaikan komunitas mereka. Namun, kemunculan kasus minor yang memalukan tersebut tetap harus dianggap sebagai alarm. Darah muda memang rentan akan gesekan, tapi sungguh sukar dicerna nalar kalau emosi tergadaikan karena tontonan TV yang aktor-aktornya bukan dari negeri sendiri.

Mendukung tim idola punya kenikmatan tersendiri, tentu saja, apalagi jika disuarakan lewat bahasa kolektif. Namun, kehidupan tetap punya koridor tertentu yang jangan sampai diloncati demi dalih kemaslahatan. Kata 'persaudaraan' memang selalu indah terdengar, tapi susah setengah mati kala dipraktekkan kala klub-klub idola bentrok.

Jangan lupa, Javier Zanetti, Giampaolo Pazzini, Franco Baresi dan Paolo Maldini mengaku terkagum-kagum dengan aura luar biasa yang ditunjukkan fans Inter dan Milan ketika klub mereka menyambangi Jakarta beberapa waktu lalu.

Beragam contoh positif masih banyak lagi, menunjukkan kalau ruang untuk "mode tawuran" sebenarnya lebih sempit ketimbang kreativitas mereka dalam mengelola aktivitas kelompok.

Semoga fanatisme pada klub-klub asing tidak sampai menggerogoti rasionalitas. Just enjoy it.


Glory - Glory Man United

Selasa, 02 April 2013

Mempersoalkan Perdagangan Sepakbola



Dulu, setiap anak yang hobi main bola pasti pernah bermain dengan sandal jepit, kaus atau tumpukan daun-daun jadi pengganti atau penanda tiang gawang. Tak ada mistar gawang, tak ada tiang gawang. Akibatnya, sebuah tendangan itu berbuah gol atau tidak seringkali tak jelas. Insiden macam itu akan diselesaikan melalui konsensus, dengan cara cepat, tak memakan waktu lama, tahu sama tahu.

Itulah wajah sepakbola yang masih "murni", ketika permainan dihayati bukan sekadar menang-kalah atau untung-rugi. Orang-orang Inggris punya idiom tersendiri untuk fenomena itu. Mereka menyebutnya dengan istilah "jumpers for goalposts".

Buku Jumpers for Goalposts -- selanjutnya ditulis "Jumpers" saja -- bukanlah tentang permainan tanpa tiang dan mistar gawang. Buku ini justru memaparkan betapa mahal dan seringkali tak masuk akalnya harga yang harus dibayar setiap fans sepakbola di Inggris jika ingin menonton 22 orang berusaha menceploskan bola di antara tiang dan mistar gawang lawannya.


Itulah sebabnya buku ini diberi sub-judul: How Football Sold It's Soul. Memangnya bagaimana sih, sepakbola memperdagangkan jiwanya sendiri?

Ditulis oleh Rob Smyth, kolomnis sepakbola di koran bergengsi The Guardian sekaligus seorang fans MUFC (Manchester United Football Corporate), dan Georgina Turner, seorang peneliti media, Jumpers mencoba menggeledah anatomi sepakbola Inggris, khususnya setelah era Premier League dimulai pada 1992. Hasilnya: sebuah buku yang kaya dengan sindiran, satire, lelucon dan fakta-fakta menarik, unik dan kadang menyebalkan mengenai sepakbola Inggris, tepatnya industri sepakbola Inggris.

Perdagangan jiwa sepakbola Inggris ini dimulai pada 1992, saat Premier League dimulai. Sejak saat itu, bagi kedua penulis Jumpers, lapangan sepakbola telah berubah tak ubahnya lantai bursa. Klub-klub sepakbola Inggris berupaya sekuat tenaga mengeruk celah komersial yang "disediakan" terutama oleh duo center-back: suporter dan hak siar.

Bagaimana sepakbola memperdagangkan jiwanya diilustrasikan melalui beberapa contoh. Jika pada 1986, masih di era Football League, 92 klub menyepakati nilai hak siar selama 2 tahun senilai 6,3 juta pounds; pada 2009 di era Premier League, 20 klub menyepakati nilai hak siar sebesar 1,7 miliar poundsterling.

Contoh lain adalah dua era berbeda kepemimpinan Kenny Dalglish di Liverpool. Saat mengambil-alih posisi Rafa Benitez, dia menghabiskan 80 juta pound untuk membeli Jordan Henderson, Andy Carroll, Stewart Downing dan Charlie Adam. Sementara pada 1987, Kenny membangun salah satu tim terbaik Liverpool dengan membeli John Barnes, John Aldridge, Ray Haughton dan Peter Beardsley dengan total hanya 5,5 juta pound.

Inilah era di mana Barcelona, klub yang mengaku "lebih dari sekadar klub" seraya mengklaim dirinya sebagai pewaris kehormatan dan (spirit) pembebasan bangsa Catalonia, justru menyewakan jersey-nya untuk diisi nama negara lain, Qatar, demi meraup 166 juta pound lebih. Inilah juga era di mana Manchester United, hampir bersamaan dengan momen masuknya mereka ke lantai bursa, menghapus kata "Football Club" di badge-nya. MUFC, Manchester United Football Corporate.


Gelimang uang dalam perdagangan bebas jiwa sepakbola berimbas pada banyak hal, dari mulai pendekatan terhadap taktik sampai mentalitas pemain. Saya akan uraikan beberapa contoh yang diungkapkan buku Jumpers ini.

Bagaimana sepakbola modern yang telah diperdagangkan ini mengubah pendekatan dan cara bermain dijelaskan dengan gamblang oleh pertanyaan Jose Mourinho pada para pemain Chelsea jelang final Piala FA 2007. Mou saat itu bertanya pada anak buahnya: "Do you want to enjoy the game or do you want to enjoy after the game?"

Sudah jelas bedanya jika pertanyaan itu diajukan pada Garrincha, Socrates atau Cruyff dengan jika diajukan pada John Terry atau Michael Essien. Sudah pasti juga Zdenek Zeman tak akan mengajukan pertanyaan ala Mourinho itu -- tidak saat ia memimpin Foggia pada 1991/1992, juga tidak saat ia memimpin (dan akhirnya dipecat) AS Roma pada musim 2012/2013 ini.

Di musim pertamanya memimpin Foggia di Serie A pada 1991/1992, Zeman membawa timnya sanggup mencetak 58 gol. Dalam 25 tahun terakhir saat itu, hanya 3 tim yang mampu mencetak gol lebih dari 58 gol. Foggia sendiri hanya menempati peringkat 9 di klasemen akhir, tapi torehan golnya hanya kalah dari "the dream team" AC Milan yang musim itu menjadi juara dengan tanpa terkalahkan. Saat itu, tim asuhan Zeman sampai dijuluki "Foggia dei miracoli" (Mukjizat Foggia). Penulis buku ini sama sekali tak menerjemahkan "Foggia dei miracoli". Di situ hanya ditulis: "No translation is needed, they will be remembered forever."

Ya, hasil akhir menjadi sangat didambakan, bukan karena hasil akhir akan menjamin kegemilangan yang bersejarah, melainkan karena hasil akhir yang memuaskan akan berbanding lurus dengan laba dan pemasukan.

Gelimang uang ini juga berimbas pada mentalitas pemain. Selebritas memang bukan barang baru dalam sepakbola modern. George Best puluhan tahun sebelum era Premier League sudah menikmati status sebagai pesohor. Bedanya, sebagaimana diuraikan dengan sinisme yang tanpa tedeng aling-aling dalam bab berjudul "False Idol", selebrita sepakbola di era sekarang juga dijangkiti oleh narsisme yang kelewat akut.



Jumpers memberi banyak contoh narsisme mengerikan yang melanda para pemain sepakbola Inggris di era Premier League. Pada 2001, penyerang Newcastle United, Carl Cort, diusir dari sebuah supermarket gara-gara menyerobot antrian dengan istrinya berkata sok beken: "Apa kau tidak tahu siapa saya?" Untuk diketahui, Cort hanya bermain sebanyak 22 kali untuk Newcastle selama 4 musim.

Jika contoh itu belum cukup, simaklah apa yang disemburkan mulut El-Hadji Diouf. Pemain Senegal yang dikontrak Liverpool usai bermain bagus di Piala Dunia 2002 itu dengan antengnya mengoceh: "Kamu tidak bisa bicara tentang Senegal tanpa bicara tentang El Hadji Diouf. (Jika anda bicara tentang Senegal tanpa menyebut Diouf) ini seperti kamu ingin memahami sejarah Prancis tanpa berbicara tentang Charles de Gaulle."

Itulah sebagian fakta menarik dari buku Jumpers ini. Penuh dengan anekdot, kata-kata lucu sekaligus filosofis, fragmen-fragmen indah sekaligus konyol, sindiran halus sampai yang sarkas. Seorang penggemar Liga Inggris yang membaca buku ini niscaya akan tertawa sekaligus meringis, menepuk dada sekaligus mengelus dada.

Ya, untuk semua hal-hal macam di atas itu, sepakbola modern Liga Inggris menuntut harga terlalu mahal yang harus dibayarkan oleh para fans, tak peduli itu fans karbitan yang datang dari Asia atau fans tradisional yang sudah berdiri di tribun turun temurun dari sejak kakeknya.

Bagi seorang fans tradisional, perubahan ini membuat sepakbola Inggris kian jauh dari kultur kelas pekerja yang jadi akar dalam sejarah sepakbola Inggris. "Gara-gara kalian," kata seorang fans asli Inggris pada fans dari Asia, "kami harus ke stadion siang hari."

Dengan satire yang tajam, Jumpers menyebut relasi antara para fans dengan kompetisi Liga Inggris dengan sebutan "terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta… dengan para fans yang telah menjadi, untuk pertama dan terakhir, tak lebih dari pendapatan."

Jumpers mungkin mewakili para fans tradisional sepakbola Inggris. Jika surat kabar The Sunday Times pada 1980-an pernah menyebut sepakbola sebagai "a slum sport played in slum stadiums and increasingly watched by slum people", maka buku ini menjawab sarkasme The Sunday Times dengan mengutip kata-kata seorang pebisnis Inggris, Simon Jordan, kalau sepakbola sekarang telah menjadi "dunia omong kosong" (a bullshitt world).

Buku ini jelas menggemakan apa yang belakangan dikenal sebagai kampanye "Against Modern Football", "No Al Calcio Moderno", "Contre Le Football Moderne" atau "Mot Den Moderna Fotbollen". Kampanye perlawanan ini telah berhasil mengusir Tom Hicks dan George Gilette dari Liverpool, sudah menabuh genderang perang melawan penguasaan Glazer di Manchester United yang berujung lahirnya FC United of Manchester.

Malcolm Clark, Ketua Football Supporter's Federation, menyuarakan keberatan suporter atas makin menggilanya komersialisasi sepakbola. "Para suporter," kata Clark kepada BBC akhir 2012, "mempertanyakan mengapa mereka harus membayar harga tiket lebih mahal ketika … upah para pemain justru semakin meningkat."

Survey BBC terhadap 166 klub di Inggris akhir 2012 lalu mengungkapkan fakta betapa rata-rata tiket termurah di empat divisi teratas sepakbola Inggris telah meningkat sebesar 11,7% -- lima kali lipat lebih dari tingkat inflasi. Belum lagi harga jersey dan merchandise lainnya.

Ada sejumlah bantahan yang bisa diajukan pada buku ini. Akan tetapi, menurut hemat saya, buku ini memang tidak berpretensi untuk jadi buku yang terlalu meyakinkan. Buku ini, mula-mula, memang diajukan untuk mereka yang kelewat memuja tontonan sepakbola bertajuk Premier League.

Bagi pembaca Indonesia seperti saya, buku ini memunculkan sebuah pertanyaan menggelitik: jika orang Inggris sana saja sudah banyak yang sebal dengan perdagangan sepakbola ala Premier League, kenapa justru di sini jutaan orang dengan suka rela "menjerembabkan/menyungkurkan diri" pada pusaran perdagangan sepakbola ini?

Saya masih menonton tayangan Premier League di televisi karena memang tidak membenci sepakbola modern. Hanya saja, sebagaimana digemakan buku ini, saya sudah mulai enggan untuk membeli apa yang diperdagangkan sepakbola yang seperti itu.


Glory - Glory Man. United

Senin, 01 April 2013

Alasan Stadion Liga Inggris Tidak Berpagar


Selain dikenal dengan Kick And Rush nya, Liga Inggris dikenal dengan kualitas lapangan nomor wahid. Dan satu lagi, stadion - stadion di Inggris ternyata nggak punya pagar pembatas antara tribun penonton dengan lapangan. Dan yang lebih hebatnya lagi, jarak bangku penonton dengan lapangan gak lebih dari 5 meter. Kenapa bisa begitu?

Ternyata hal tersebut diberlakukan bukan karena penonton Liga Inggris pada baik dan tertib, tapi karena penonton pada bengal dan brutal. Lhooo..kok bisa? Penonton nya brutal kok ga dikasih pagar pembatas? Ini dia sejarahnya dan alasannya . . .



Anda pasti sudah tahu dengan kerusuhan yang dilakukan supporter Liverpool di Belgia sewaktu final Liga Champions lawan Juventus. Kerusuhan yang terjadi 29 Mei 1985 yang kemudian dikenal dengan Tragedi Heysel ini memakan korban jiwa 39 orang.

Tragedi tersebut berdampak besar bagi sepakbola Eropa. Ada kesalahan tentu ada sanksi. Soal kerusuhan dan pelanggaran, Eropa paling tegas. UEFA akhirnya melarang Liverpool main di Eropa selama 5 tahun. Dan uniknya, FA (Konfederasi Sepakbola Inggris) malah ikut - ikutan nambahin hukuman.

Dan yang lebih unik, bukan cuma Liverpool, tapi semua klub Inggris nggak boleh main di luar Inggris selama 5 tahun! Dan yang paling unik, ternyata gak ada protes dari klub-klub yang kena sanksi.

“Lho Liverpool yang salah, kok gue kena getahnya?” mungkin begitu celoteh klub-klub Inggris tersebut. Semua pasrah. Ulah fans Liverpool saat itu yang mabuk berat dan berkategori hooligans benar-benar menampar muka sepakbola Inggris. Namun begitu semua klub sepakat introspeksi.

Hukuman FA tiak berhenti di situ. Ada banyak perubahan parameter keamanan lainnya. Yang paling mencolok adalah menghilangkan pagar pembatas tribun penonton dan lapangan serta nggak boleh lagi ada tribun kelas berdiri (tanpa kursi) di seantero Inggris. Di Eropa, cuma Inggris yang nggak menjual tiket tanpa kursi.

FA sempat dikecam oleh publik sepakbola Inggris, bahkan Eropa. Jelas banyak yang sewot karena tiket berdiri harganya murah meriah. Dan hal yang dianggap paling gila adalah menghilangkan pagar pembatas. Ada pagar aja rusuh, apalagi ompong melompong?

Tapi buat FA, kelas suporter berdiri justru pusatnya biang kerok. Jadi, sekarang ini semua stadion di Inggris tanpa pagar dan tidak menjual tiket bernomor kursi. FA memang organisasi berpengalaman. Ide mereka ternyata berhasil.

Hilangnya pagar pembatas justru membuat dewasa suporter Inggris. Karena FA juga mencatat identitas penonton yang masuk stadion. Sekali bikin rusuh, si suporter bakal di-banned masuk stadion di seluruh Inggris untuk beberapa tahun, bahkan selamanya. Di dalam stadion juga nggak boleh terlihat pasukan polisi alias harus menyamar.



Dengan aturan tersebut, bukan berarti sepakbola Liga Inggris 100% aman. Penggemar Setan Merah pasti tidak akan lupa dengan “tendangan kung fu” Eric Cantona kepada suporter Crystal Palace di pinggir lapangan.

Atau The Kop masih ingat dengan insiden masuknya balon ke lapangan yang dilemparkan seorang remaja yang akhirnya membuat liverpool kalah dari Sunderland.



Terlepas dari hal itu, rasanya kita wajib mengacungkan 2 jempol untuk keberanian FA dan sikap dewasa para suporter Liga Inggris yang dulu sering bikin orang resah, sekarang justru relatif lebih santun. Kalau misalkan hal serupa diterapkan di Liga Indoensia, apa yang kira-kira bakalan terjadi ya?


Glory - Glory Man. United

Terasa De Javu



Manchester United kembali harus merelakan satu trofi melayang. Setelah tersingkir dari Piala Carling dan Liga Champions, kali ini Chelsea mengubur impian United untuk menggondol Piala FA yang terakhir kali mereka raih pada 2004.

Kekalahan ini memperburuk rekor United menghadapi Chelsea di kejuaraan domestik. United memang berhasil mengalahkan Chelsea 2-3 di liga, tapi Chelsea sudah 2 kali menggagalkan upaya United meraih gelar. Desember lalu, Chelsea juga yang menyingkirkan si "Setan Merah" dari perburuan trofi Piala Liga.

Dan dalam semua keberhasilan Chelsea mengandaskan ambisi United di dua kejuaraan itu, Juan Mata selalu memberi kontribusi vital. Tidak terkecuali pada laga tadi malam.

Hazard dan Mikel sebagai Starter

Rafa Benitez menurunkan starter dengan orientasi menyerang yang lebih kuat ketimbang di laga pertama. Hazard-Oscar-Mata diturunkan sejak awal untuk menopang Demba Ba yang dipasang sebagai striker tunggal. Obi Mikel juga diturunkan sejak menit pertama.

Di pertandingan pertama, Hazard disimpan Rafa dan baru dimasukkan di babak II setelah United unggul 2-0. Sebagaimana Hazard, saat itu Rafa juga baru memasukkan Mikel setelah United unggul 2-0. Setelah Hazard dan Mikel masuk, barulah Chelsea bisa mengendalikan permainan. Itulah sebabnya kali ini Rafa memutuskan untuk menurunkan Mikel dan Hazard sejak menit pertama.

Sementara Ferguson mengulangi strategi di laga pertama yaitu menurunkan tim dengan hanya memasang seorang natural-winger pada diri Nani. Sedikit kejutan diberikan Fergie dengan memasang Antonio Valencia sebagai full-back kanan.

4-2-3-1 Saat Menyerang, 4-3-3 Saat bertahan

Kendati sama-sama bermain dengan satu striker, kedua tim bermain dengan formasi yang agak berbeda. Jika Chelsea dengan 4-2-3-1, United cenderung bermain dengan 4-3-3. Trio lini tengah United, Jones-Carrick-Cleverley, seringkali bermain sejajar di depan back-four. Sementara Nani dan Wellbeck terus bertukar posisi di kanan dan kiri mendampingi Chicarito sebagai target-man. Saat menyerang, barulah United bermain dengan 4-2-3-1 dengan Cleverley naik dari sisi kiri.

Taktik ini tentu untuk menghambat agresivitas trio lini kedua Chelsea yang di laga pertama -- terutama di babak 2 --memang sangat merepotkan. Hazard di kanan tak dibiarkan oleh Jones untuk leluasa meneror Valencia. Sementara Cleverley juga rajin membantu Evra di kiri dalam meminimalisir ancaman dari Oscar. Di jantung lini tengah, dua otak permainan kedua tim -- Mata dan Carrick -- saling berhadapan.

Tiga gelandang tengah yang sering bergerak sejajar melindungi back-four inilah yang memungkinkan agresivitas Hazard-Mata-Oscar bisa dinetralisir dengan baik. Chelsea memang mendominasi di final third, terbukti mereka mampu memproduksi 8 percobaan mencetak gol. Akan tetapi, hanya 2 yang mencapai target. 4 dari 8 percobaan itu [50%] berhasil diblok oleh barisan pertahanan United.

Kredit patut diberikan pada Jones, terutama di babak I. Dia bukan hanya mampu melapis Valencia di kanan, tapi juga membantu Carrick dalam menahan pergerakan Juan Mata. Terutama setelah Valencia bisa lebih nyaman dalam mengunci Hazard, Jones lebih sering berada di samping Carrick sebagai double-pivot.


Ramires Lebih Agresif

Di babak II, Chelsea jauh lebih berbahaya ketimbang di babak I. United secara umum memang lebih menguasai dalam posession [44% vs 56%], tapi Chelsea lebih efisien dalam mengonversi penguasaan bola menjadi percobaan mencetak gol. Jika di babak I Chelsea hanya bisa membuat 8 percobaan, di babak II mereka berhasil membuat 12 attempts. Bandingkan dengan United yang hanya berhasil membuat 12 percobaan mencetak gol.

Salah satu sebab kenapa Chelsea bisa lebih efisien dalam menyerang adalah perubahan cara bermain Ramires. Di babak I, Ramires lebih sering tertahan di dalam. Posisinya cenderung sering sejajar dengan Obi Mikel. Dengan trio Hazard-Mata-Oscar secara konsisten dihadang oleh Jones-Carrick-Cleverley, Chelsea tak banyak mendapat ruang untuk mengekploitasi final third.


Jika di babak I itu Ramires cenderung statis sebagai double-pivot bersama Mikel, di babak II Ramires lebih agresif dan cenderung menjadi seorang box-to-box midfielder. Pemain Brasil ini lebih rajin bergerak ke depan, baik itu berdiri sejajar dengan Mata maupun mendekati areanya Oscar.

Perubahan ini membuat Chelsea unggul jumlah pemain saat memasuki daerah pertahanan United. Situasi di lini tengah bukan lagi 3 vs 3 [Hazard-Mata-Oscar vs Jones-Carrick-Cleverley], tapi 4 vs 3. Efek lainnya adalah makin leluasanya Mata bergerak di daerah pertahanan United. Dan inilah yang akhirnya menentukan hasil akhir.


Faktor Juan Mata

Dengan perubahan cara bermain Ramires di atas, Mata bisa lebih leluasa naik menopang Demba Ba. Posisinya tak lagi tertahan oleh Jones-Carrick, tapi sudah lebih sering berada di belakang Ba. Pemain pertama yang berhasil menorehkan double-digit dalam urusan mencetak gol dan membuat assist di musim 2012/2013 ini mulai sering mendapatkan ruang di dalam kotak penalti United.

Tak mengherankan jika statistik Mata di babak II ini jauh lebih mentereng. Jika di babak I dia tak sekali pun mampu membuat percobaan mencetak gol, sepanjang babak II dia malah mampu memproduksi 5 kali percobaan mencetak gol. Di babak II, Mata juga berhasil membuat beberapa key-passes [umpan yang lantas diakhiri dengan attempt] dan through pass -- sesuatu yang tak bisa dia lakukan sepanjang babak I.


Salah satu through pass yang dibuat Juan Mata di babak II bahkan berhasil dikonversi menjadi sebuah gol yang sangat cantik oleh Demba Ba. Assist Mata pada Ba ini melengkapi performa Mata di laga pertama saat ia juga mengkreasikan gol pertama Chelsea yang dicetak Hazard.


Publik lebih sering berbicara tentang catatan bagus Javier 'Chicharito' Hernandez saat menghadapi Chelsea [mencetak 6 gol dari 7 laga menghadapi Chelsea]. Tapi jangan lupakan Juan Mata. Dalam 6 laga menghadapi United, hanya sekali Mata tak berhasil membuat gol atau assist. Di 5 laga terakhir, Mata selalu memberikan kontribusi vital: jika tak mencetak gol, minimal dia selalu berhasil membuat assist.

Total kontribusi Mata bagi Chelsea saat menghadapi United dalam 5 laga terakhir adalah mencetak 2 gol dan membuat 3 assist.

Strategi Pergantian Pemain

Chicarito sebenarnya tak bermain buruk. Sendirian di lini depan, tanpa dukungan memadai dari lini tengah, dia masih sempat membuat 2 percobaan mencetak gol. Cech secara luar biasa berhasil mementahkan 2 percobaan Chica tersebut.

Kendala terbesar Chica adalah minimnya suplai dari lini tengah. Hanya Wellbeck yang relatif bermain baik. Sementara Nani sama sekali tak memberi kontribusi yang berarti. Begitu juga dengan Cleverley yang sebenarnya diinstruksikan untuk lebih aktif ke depan saat menyerang. Tidak heran jika dua pemain itu pula yang ditarik keluar digantikan oleh Robin van Persie dan Ryan Giggs.

Perubahan ini membuat United bermain dengan formasi 4-4-2. Selain menduetkan Persie dan Chica di lini depan, Fergie juga menukar posisi Jones dan Valencia. Kali ini Jones menjadi full-back kanan, sementara Valencia mengisi posisi di flank kanan. Giggs sendiri berada di depan Carrick. Karena tak kunjung mempertajam daya gedor, Fergie kembali melakukan perubahan terakhir. Wellbeck ditarik ke luar digantikan oleh Ashley Young pada menit 80.

Perubahan kali ini cukup berhasil meningkatkan serangan United. 10 menit terakhir, United sangat dominan dalam melakukan serangan. Ryan Bertrand di kiri dan Azpilicueta di kanan harus sekuat tenaga mempertahankan wilayahnya dari serbuan Valencia dan Young. Sampai-sampai, Mata dan Oscar pun harus ikut bertahan dan akhirnya menerima kartu kuning dalam selang 1 menit saja.

Sayang tak cukup waktu bagi United. Tentu saja ditambah satu hal: mandulnya Van Persie yang gagal mengkonversi peluang emas di depan gawang Chelsea.

Kesimpulan

Ini bukan laga hebat dengan kejadian-kejadian spektakuler. Laga cenderung datar walau kedua tim sebenarnya tidak ada yang berusaha bermain bertahan. Total 32 percobaan mencetak gol di laga ini setidaknya menunjukkan bagaimana kedua tim berusaha aktif menyerang. Laga di babak II juga cenderung lebih hidup ketimbang babak I yang monoton.

United bermain lebih baik ketimbang di laga pertama, tapi sukar untuk tidak mengatakan United bermain terlalu standar. Anak asuh Fergie ini baru menyengat setelah ketinggalan. Bermain buruk tentu saja bukan barang baru bagi United. Bedanya: ini bukan Liga Inggris di mana United sangat sering berhasil meraih 3 poin walau bermain buruk sekali pun.

Sejauh ini, setidaknya dalam 3 laga di Piala Carling dan Piala FA, Rafa Benitez terbukti menjadi kartu mati bagi United dan Sir Alex Ferguson.


Glory - Glory Man. United