Rabu, 03 April 2013
Fans Layar Kaca
Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kabar bentrokan antara fans Barcelona dan Real Madrid di Yogyakarta, atau tawuran tifosi Juventus dan Inter Milan di Manado?
Mungkin kita bisa maklum apabila kelompok-kelompok suporter klub-klub lokal berbasis massa besar rajin mencuri atensi. Tapi bagaimana jika letupan emosi yang menjadi pelatuk konflik itu justru berasal dari tim-tim yang hanya bisa disaksikan dari layar kaca?
Pada Sabtu tengah malam, 2 Maret 2013, para fans layar kaca itu gontok-gontokan di Yogyakarta, setelah tersaji siaran langsung El Clasico. Kabarnya, kadar tawuran antara fans Barcelona dan Madrid itu hampir menyamai konflik antarsuporter "ala" klub-klub di tanah air.
Media jejaring sosial macam twitter jadi pusat penghakiman massa. Yogja seolah-olah merebut fokus para peselancar dunia maya dari partai klasik itu sendiri. Acara nonton bareng yang seyogyanya cukup menjadi ajang "adu gengsi" atau "adu narsis" fans dua klub rival itu, menemui pembelokan makna. Pertandingannya terjadi puluhan ribu mil nun jauh di sana, bentrokannya justru terjadi di sini.
Kekonyolan serupa terjadi di sebuah kawasan di kota Manado, Sulawesi Utara, pada 30 Maret lalu, sehabis pertandingan Inter vs Juventus, yang berakhir 2-1 untuk Bianconeri. Setelah nobar, suporter kedua kesebelasan saling ejek, lalu saling pukul dan kemudian lempar-lemparan batu.
Konflik penting untuk solidaritas?
Mari berselancar sejenak lewat analisa ilmu sosial tentang konflik, entah itu konflik berlevel ecek-ecek hingga yang berskala besar. Dalam kacamata sosiologi, para pencetus teori konflik terbagi ke antara dua kutub besar. Kelompok pertama adalah mereka yang memusatkan analisis pada konflik sebagai penyebab perubahan sosial. Kelompok lainnya menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Aman jika mengatakan pisau analisis kedua-lah yang pantas digunakan untuk membedah kasus tawuran antarfans klub di atas. Grup berbasis hobi memang tampak solid dari luar, tapi kemungkinan longgarnya ikatan di antara para anggota sangat terbuka seiring kuantitas kelompok yang besar.
Lewis Coser (1913-2003), sosiolog Amerika kelahiran Jerman, merangkum beberapa fungsi konflik. Salah satunya, konflik dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok dan solidaritas itu bisa menghantarnya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain. Solidaritas internal kelompok bisa dipahami dengan sederhana: anggota kelompok merasa dekat tidak hanya karena kesamaan favorit, namun juga karena ada musuh bersama.
Dari sisi fans sepakbola, memaki-maki musuh bebuyutan akan terasa lebih nikmat jika disuarakan bersama entitas lain yang juga anti kepada kubu seberang. Jadi, wajar jika -- misalnya -- Juventus dan Inter memiliki "aliansi" masing-masing karena perjodohan faktor kebencian luar biasa. AC Milan boleh jadi lebih memilih menjadi "teman" Juventus ketimbang harus mendukung saudara, La Beneamata. Fiorentina, yang merupakan musuh Juve karena kasus masa lalu, mungkin lebih girang ketika Inter menguasai Italia pasca Calciopoli.
Perasaan itu kemudian terbawa hingga ke level fans akar rumput. Aliansi antara beberapa kelompok fans klub tak tertulis di atas kertas, namun begitu kental saat acara nobar.
Ajang Kreatif
Terlepas dari semua itu, kita pantang memberi stigma pada kelompok suporter klub asing yang sangat marak menampilkan dirinya dalam beberapa tahun terakhir. Jangan pula menepikan berbagai aktivitas sosial yang mereka lakukan, minimal untuk kebaikan komunitas mereka. Namun, kemunculan kasus minor yang memalukan tersebut tetap harus dianggap sebagai alarm. Darah muda memang rentan akan gesekan, tapi sungguh sukar dicerna nalar kalau emosi tergadaikan karena tontonan TV yang aktor-aktornya bukan dari negeri sendiri.
Mendukung tim idola punya kenikmatan tersendiri, tentu saja, apalagi jika disuarakan lewat bahasa kolektif. Namun, kehidupan tetap punya koridor tertentu yang jangan sampai diloncati demi dalih kemaslahatan. Kata 'persaudaraan' memang selalu indah terdengar, tapi susah setengah mati kala dipraktekkan kala klub-klub idola bentrok.
Jangan lupa, Javier Zanetti, Giampaolo Pazzini, Franco Baresi dan Paolo Maldini mengaku terkagum-kagum dengan aura luar biasa yang ditunjukkan fans Inter dan Milan ketika klub mereka menyambangi Jakarta beberapa waktu lalu.
Beragam contoh positif masih banyak lagi, menunjukkan kalau ruang untuk "mode tawuran" sebenarnya lebih sempit ketimbang kreativitas mereka dalam mengelola aktivitas kelompok.
Semoga fanatisme pada klub-klub asing tidak sampai menggerogoti rasionalitas. Just enjoy it.
Glory - Glory Man United
Selasa, 02 April 2013
Mempersoalkan Perdagangan Sepakbola
Dulu, setiap anak yang hobi main bola pasti pernah bermain dengan sandal jepit, kaus atau tumpukan daun-daun jadi pengganti atau penanda tiang gawang. Tak ada mistar gawang, tak ada tiang gawang. Akibatnya, sebuah tendangan itu berbuah gol atau tidak seringkali tak jelas. Insiden macam itu akan diselesaikan melalui konsensus, dengan cara cepat, tak memakan waktu lama, tahu sama tahu.
Itulah wajah sepakbola yang masih "murni", ketika permainan dihayati bukan sekadar menang-kalah atau untung-rugi. Orang-orang Inggris punya idiom tersendiri untuk fenomena itu. Mereka menyebutnya dengan istilah "jumpers for goalposts".
Buku Jumpers for Goalposts -- selanjutnya ditulis "Jumpers" saja -- bukanlah tentang permainan tanpa tiang dan mistar gawang. Buku ini justru memaparkan betapa mahal dan seringkali tak masuk akalnya harga yang harus dibayar setiap fans sepakbola di Inggris jika ingin menonton 22 orang berusaha menceploskan bola di antara tiang dan mistar gawang lawannya.
Itulah sebabnya buku ini diberi sub-judul: How Football Sold It's Soul. Memangnya bagaimana sih, sepakbola memperdagangkan jiwanya sendiri?
Ditulis oleh Rob Smyth, kolomnis sepakbola di koran bergengsi The Guardian sekaligus seorang fans MUFC (Manchester United Football Corporate), dan Georgina Turner, seorang peneliti media, Jumpers mencoba menggeledah anatomi sepakbola Inggris, khususnya setelah era Premier League dimulai pada 1992. Hasilnya: sebuah buku yang kaya dengan sindiran, satire, lelucon dan fakta-fakta menarik, unik dan kadang menyebalkan mengenai sepakbola Inggris, tepatnya industri sepakbola Inggris.
Perdagangan jiwa sepakbola Inggris ini dimulai pada 1992, saat Premier League dimulai. Sejak saat itu, bagi kedua penulis Jumpers, lapangan sepakbola telah berubah tak ubahnya lantai bursa. Klub-klub sepakbola Inggris berupaya sekuat tenaga mengeruk celah komersial yang "disediakan" terutama oleh duo center-back: suporter dan hak siar.
Bagaimana sepakbola memperdagangkan jiwanya diilustrasikan melalui beberapa contoh. Jika pada 1986, masih di era Football League, 92 klub menyepakati nilai hak siar selama 2 tahun senilai 6,3 juta pounds; pada 2009 di era Premier League, 20 klub menyepakati nilai hak siar sebesar 1,7 miliar poundsterling.
Contoh lain adalah dua era berbeda kepemimpinan Kenny Dalglish di Liverpool. Saat mengambil-alih posisi Rafa Benitez, dia menghabiskan 80 juta pound untuk membeli Jordan Henderson, Andy Carroll, Stewart Downing dan Charlie Adam. Sementara pada 1987, Kenny membangun salah satu tim terbaik Liverpool dengan membeli John Barnes, John Aldridge, Ray Haughton dan Peter Beardsley dengan total hanya 5,5 juta pound.
Inilah era di mana Barcelona, klub yang mengaku "lebih dari sekadar klub" seraya mengklaim dirinya sebagai pewaris kehormatan dan (spirit) pembebasan bangsa Catalonia, justru menyewakan jersey-nya untuk diisi nama negara lain, Qatar, demi meraup 166 juta pound lebih. Inilah juga era di mana Manchester United, hampir bersamaan dengan momen masuknya mereka ke lantai bursa, menghapus kata "Football Club" di badge-nya. MUFC, Manchester United Football Corporate.
Gelimang uang dalam perdagangan bebas jiwa sepakbola berimbas pada banyak hal, dari mulai pendekatan terhadap taktik sampai mentalitas pemain. Saya akan uraikan beberapa contoh yang diungkapkan buku Jumpers ini.
Bagaimana sepakbola modern yang telah diperdagangkan ini mengubah pendekatan dan cara bermain dijelaskan dengan gamblang oleh pertanyaan Jose Mourinho pada para pemain Chelsea jelang final Piala FA 2007. Mou saat itu bertanya pada anak buahnya: "Do you want to enjoy the game or do you want to enjoy after the game?"
Sudah jelas bedanya jika pertanyaan itu diajukan pada Garrincha, Socrates atau Cruyff dengan jika diajukan pada John Terry atau Michael Essien. Sudah pasti juga Zdenek Zeman tak akan mengajukan pertanyaan ala Mourinho itu -- tidak saat ia memimpin Foggia pada 1991/1992, juga tidak saat ia memimpin (dan akhirnya dipecat) AS Roma pada musim 2012/2013 ini.
Di musim pertamanya memimpin Foggia di Serie A pada 1991/1992, Zeman membawa timnya sanggup mencetak 58 gol. Dalam 25 tahun terakhir saat itu, hanya 3 tim yang mampu mencetak gol lebih dari 58 gol. Foggia sendiri hanya menempati peringkat 9 di klasemen akhir, tapi torehan golnya hanya kalah dari "the dream team" AC Milan yang musim itu menjadi juara dengan tanpa terkalahkan. Saat itu, tim asuhan Zeman sampai dijuluki "Foggia dei miracoli" (Mukjizat Foggia). Penulis buku ini sama sekali tak menerjemahkan "Foggia dei miracoli". Di situ hanya ditulis: "No translation is needed, they will be remembered forever."
Ya, hasil akhir menjadi sangat didambakan, bukan karena hasil akhir akan menjamin kegemilangan yang bersejarah, melainkan karena hasil akhir yang memuaskan akan berbanding lurus dengan laba dan pemasukan.
Gelimang uang ini juga berimbas pada mentalitas pemain. Selebritas memang bukan barang baru dalam sepakbola modern. George Best puluhan tahun sebelum era Premier League sudah menikmati status sebagai pesohor. Bedanya, sebagaimana diuraikan dengan sinisme yang tanpa tedeng aling-aling dalam bab berjudul "False Idol", selebrita sepakbola di era sekarang juga dijangkiti oleh narsisme yang kelewat akut.
Jumpers memberi banyak contoh narsisme mengerikan yang melanda para pemain sepakbola Inggris di era Premier League. Pada 2001, penyerang Newcastle United, Carl Cort, diusir dari sebuah supermarket gara-gara menyerobot antrian dengan istrinya berkata sok beken: "Apa kau tidak tahu siapa saya?" Untuk diketahui, Cort hanya bermain sebanyak 22 kali untuk Newcastle selama 4 musim.
Jika contoh itu belum cukup, simaklah apa yang disemburkan mulut El-Hadji Diouf. Pemain Senegal yang dikontrak Liverpool usai bermain bagus di Piala Dunia 2002 itu dengan antengnya mengoceh: "Kamu tidak bisa bicara tentang Senegal tanpa bicara tentang El Hadji Diouf. (Jika anda bicara tentang Senegal tanpa menyebut Diouf) ini seperti kamu ingin memahami sejarah Prancis tanpa berbicara tentang Charles de Gaulle."
Itulah sebagian fakta menarik dari buku Jumpers ini. Penuh dengan anekdot, kata-kata lucu sekaligus filosofis, fragmen-fragmen indah sekaligus konyol, sindiran halus sampai yang sarkas. Seorang penggemar Liga Inggris yang membaca buku ini niscaya akan tertawa sekaligus meringis, menepuk dada sekaligus mengelus dada.
Ya, untuk semua hal-hal macam di atas itu, sepakbola modern Liga Inggris menuntut harga terlalu mahal yang harus dibayarkan oleh para fans, tak peduli itu fans karbitan yang datang dari Asia atau fans tradisional yang sudah berdiri di tribun turun temurun dari sejak kakeknya.
Bagi seorang fans tradisional, perubahan ini membuat sepakbola Inggris kian jauh dari kultur kelas pekerja yang jadi akar dalam sejarah sepakbola Inggris. "Gara-gara kalian," kata seorang fans asli Inggris pada fans dari Asia, "kami harus ke stadion siang hari."
Dengan satire yang tajam, Jumpers menyebut relasi antara para fans dengan kompetisi Liga Inggris dengan sebutan "terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta… dengan para fans yang telah menjadi, untuk pertama dan terakhir, tak lebih dari pendapatan."
Jumpers mungkin mewakili para fans tradisional sepakbola Inggris. Jika surat kabar The Sunday Times pada 1980-an pernah menyebut sepakbola sebagai "a slum sport played in slum stadiums and increasingly watched by slum people", maka buku ini menjawab sarkasme The Sunday Times dengan mengutip kata-kata seorang pebisnis Inggris, Simon Jordan, kalau sepakbola sekarang telah menjadi "dunia omong kosong" (a bullshitt world).
Buku ini jelas menggemakan apa yang belakangan dikenal sebagai kampanye "Against Modern Football", "No Al Calcio Moderno", "Contre Le Football Moderne" atau "Mot Den Moderna Fotbollen". Kampanye perlawanan ini telah berhasil mengusir Tom Hicks dan George Gilette dari Liverpool, sudah menabuh genderang perang melawan penguasaan Glazer di Manchester United yang berujung lahirnya FC United of Manchester.
Malcolm Clark, Ketua Football Supporter's Federation, menyuarakan keberatan suporter atas makin menggilanya komersialisasi sepakbola. "Para suporter," kata Clark kepada BBC akhir 2012, "mempertanyakan mengapa mereka harus membayar harga tiket lebih mahal ketika … upah para pemain justru semakin meningkat."
Survey BBC terhadap 166 klub di Inggris akhir 2012 lalu mengungkapkan fakta betapa rata-rata tiket termurah di empat divisi teratas sepakbola Inggris telah meningkat sebesar 11,7% -- lima kali lipat lebih dari tingkat inflasi. Belum lagi harga jersey dan merchandise lainnya.
Ada sejumlah bantahan yang bisa diajukan pada buku ini. Akan tetapi, menurut hemat saya, buku ini memang tidak berpretensi untuk jadi buku yang terlalu meyakinkan. Buku ini, mula-mula, memang diajukan untuk mereka yang kelewat memuja tontonan sepakbola bertajuk Premier League.
Bagi pembaca Indonesia seperti saya, buku ini memunculkan sebuah pertanyaan menggelitik: jika orang Inggris sana saja sudah banyak yang sebal dengan perdagangan sepakbola ala Premier League, kenapa justru di sini jutaan orang dengan suka rela "menjerembabkan/menyungkurkan diri" pada pusaran perdagangan sepakbola ini?
Saya masih menonton tayangan Premier League di televisi karena memang tidak membenci sepakbola modern. Hanya saja, sebagaimana digemakan buku ini, saya sudah mulai enggan untuk membeli apa yang diperdagangkan sepakbola yang seperti itu.
Glory - Glory Man. United
Senin, 01 April 2013
Alasan Stadion Liga Inggris Tidak Berpagar
Selain dikenal dengan Kick And Rush nya, Liga Inggris dikenal dengan kualitas lapangan nomor wahid. Dan satu lagi, stadion - stadion di Inggris ternyata nggak punya pagar pembatas antara tribun penonton dengan lapangan. Dan yang lebih hebatnya lagi, jarak bangku penonton dengan lapangan gak lebih dari 5 meter. Kenapa bisa begitu?
Ternyata hal tersebut diberlakukan bukan karena penonton Liga Inggris pada baik dan tertib, tapi karena penonton pada bengal dan brutal. Lhooo..kok bisa? Penonton nya brutal kok ga dikasih pagar pembatas? Ini dia sejarahnya dan alasannya . . .
Anda pasti sudah tahu dengan kerusuhan yang dilakukan supporter Liverpool di Belgia sewaktu final Liga Champions lawan Juventus. Kerusuhan yang terjadi 29 Mei 1985 yang kemudian dikenal dengan Tragedi Heysel ini memakan korban jiwa 39 orang.
Tragedi tersebut berdampak besar bagi sepakbola Eropa. Ada kesalahan tentu ada sanksi. Soal kerusuhan dan pelanggaran, Eropa paling tegas. UEFA akhirnya melarang Liverpool main di Eropa selama 5 tahun. Dan uniknya, FA (Konfederasi Sepakbola Inggris) malah ikut - ikutan nambahin hukuman.
Dan yang lebih unik, bukan cuma Liverpool, tapi semua klub Inggris nggak boleh main di luar Inggris selama 5 tahun! Dan yang paling unik, ternyata gak ada protes dari klub-klub yang kena sanksi.
“Lho Liverpool yang salah, kok gue kena getahnya?” mungkin begitu celoteh klub-klub Inggris tersebut. Semua pasrah. Ulah fans Liverpool saat itu yang mabuk berat dan berkategori hooligans benar-benar menampar muka sepakbola Inggris. Namun begitu semua klub sepakat introspeksi.
Hukuman FA tiak berhenti di situ. Ada banyak perubahan parameter keamanan lainnya. Yang paling mencolok adalah menghilangkan pagar pembatas tribun penonton dan lapangan serta nggak boleh lagi ada tribun kelas berdiri (tanpa kursi) di seantero Inggris. Di Eropa, cuma Inggris yang nggak menjual tiket tanpa kursi.
FA sempat dikecam oleh publik sepakbola Inggris, bahkan Eropa. Jelas banyak yang sewot karena tiket berdiri harganya murah meriah. Dan hal yang dianggap paling gila adalah menghilangkan pagar pembatas. Ada pagar aja rusuh, apalagi ompong melompong?
Tapi buat FA, kelas suporter berdiri justru pusatnya biang kerok. Jadi, sekarang ini semua stadion di Inggris tanpa pagar dan tidak menjual tiket bernomor kursi. FA memang organisasi berpengalaman. Ide mereka ternyata berhasil.
Hilangnya pagar pembatas justru membuat dewasa suporter Inggris. Karena FA juga mencatat identitas penonton yang masuk stadion. Sekali bikin rusuh, si suporter bakal di-banned masuk stadion di seluruh Inggris untuk beberapa tahun, bahkan selamanya. Di dalam stadion juga nggak boleh terlihat pasukan polisi alias harus menyamar.
Dengan aturan tersebut, bukan berarti sepakbola Liga Inggris 100% aman. Penggemar Setan Merah pasti tidak akan lupa dengan “tendangan kung fu” Eric Cantona kepada suporter Crystal Palace di pinggir lapangan.
Atau The Kop masih ingat dengan insiden masuknya balon ke lapangan yang dilemparkan seorang remaja yang akhirnya membuat liverpool kalah dari Sunderland.
Terlepas dari hal itu, rasanya kita wajib mengacungkan 2 jempol untuk keberanian FA dan sikap dewasa para suporter Liga Inggris yang dulu sering bikin orang resah, sekarang justru relatif lebih santun. Kalau misalkan hal serupa diterapkan di Liga Indoensia, apa yang kira-kira bakalan terjadi ya?
Glory - Glory Man. United
Terasa De Javu
Manchester United kembali harus merelakan satu trofi melayang. Setelah tersingkir dari Piala Carling dan Liga Champions, kali ini Chelsea mengubur impian United untuk menggondol Piala FA yang terakhir kali mereka raih pada 2004.
Kekalahan ini memperburuk rekor United menghadapi Chelsea di kejuaraan domestik. United memang berhasil mengalahkan Chelsea 2-3 di liga, tapi Chelsea sudah 2 kali menggagalkan upaya United meraih gelar. Desember lalu, Chelsea juga yang menyingkirkan si "Setan Merah" dari perburuan trofi Piala Liga.
Dan dalam semua keberhasilan Chelsea mengandaskan ambisi United di dua kejuaraan itu, Juan Mata selalu memberi kontribusi vital. Tidak terkecuali pada laga tadi malam.
Hazard dan Mikel sebagai Starter
Rafa Benitez menurunkan starter dengan orientasi menyerang yang lebih kuat ketimbang di laga pertama. Hazard-Oscar-Mata diturunkan sejak awal untuk menopang Demba Ba yang dipasang sebagai striker tunggal. Obi Mikel juga diturunkan sejak menit pertama.
Di pertandingan pertama, Hazard disimpan Rafa dan baru dimasukkan di babak II setelah United unggul 2-0. Sebagaimana Hazard, saat itu Rafa juga baru memasukkan Mikel setelah United unggul 2-0. Setelah Hazard dan Mikel masuk, barulah Chelsea bisa mengendalikan permainan. Itulah sebabnya kali ini Rafa memutuskan untuk menurunkan Mikel dan Hazard sejak menit pertama.
Sementara Ferguson mengulangi strategi di laga pertama yaitu menurunkan tim dengan hanya memasang seorang natural-winger pada diri Nani. Sedikit kejutan diberikan Fergie dengan memasang Antonio Valencia sebagai full-back kanan.
4-2-3-1 Saat Menyerang, 4-3-3 Saat bertahan
Kendati sama-sama bermain dengan satu striker, kedua tim bermain dengan formasi yang agak berbeda. Jika Chelsea dengan 4-2-3-1, United cenderung bermain dengan 4-3-3. Trio lini tengah United, Jones-Carrick-Cleverley, seringkali bermain sejajar di depan back-four. Sementara Nani dan Wellbeck terus bertukar posisi di kanan dan kiri mendampingi Chicarito sebagai target-man. Saat menyerang, barulah United bermain dengan 4-2-3-1 dengan Cleverley naik dari sisi kiri.
Taktik ini tentu untuk menghambat agresivitas trio lini kedua Chelsea yang di laga pertama -- terutama di babak 2 --memang sangat merepotkan. Hazard di kanan tak dibiarkan oleh Jones untuk leluasa meneror Valencia. Sementara Cleverley juga rajin membantu Evra di kiri dalam meminimalisir ancaman dari Oscar. Di jantung lini tengah, dua otak permainan kedua tim -- Mata dan Carrick -- saling berhadapan.
Tiga gelandang tengah yang sering bergerak sejajar melindungi back-four inilah yang memungkinkan agresivitas Hazard-Mata-Oscar bisa dinetralisir dengan baik. Chelsea memang mendominasi di final third, terbukti mereka mampu memproduksi 8 percobaan mencetak gol. Akan tetapi, hanya 2 yang mencapai target. 4 dari 8 percobaan itu [50%] berhasil diblok oleh barisan pertahanan United.
Kredit patut diberikan pada Jones, terutama di babak I. Dia bukan hanya mampu melapis Valencia di kanan, tapi juga membantu Carrick dalam menahan pergerakan Juan Mata. Terutama setelah Valencia bisa lebih nyaman dalam mengunci Hazard, Jones lebih sering berada di samping Carrick sebagai double-pivot.
Ramires Lebih Agresif
Di babak II, Chelsea jauh lebih berbahaya ketimbang di babak I. United secara umum memang lebih menguasai dalam posession [44% vs 56%], tapi Chelsea lebih efisien dalam mengonversi penguasaan bola menjadi percobaan mencetak gol. Jika di babak I Chelsea hanya bisa membuat 8 percobaan, di babak II mereka berhasil membuat 12 attempts. Bandingkan dengan United yang hanya berhasil membuat 12 percobaan mencetak gol.
Salah satu sebab kenapa Chelsea bisa lebih efisien dalam menyerang adalah perubahan cara bermain Ramires. Di babak I, Ramires lebih sering tertahan di dalam. Posisinya cenderung sering sejajar dengan Obi Mikel. Dengan trio Hazard-Mata-Oscar secara konsisten dihadang oleh Jones-Carrick-Cleverley, Chelsea tak banyak mendapat ruang untuk mengekploitasi final third.
Jika di babak I itu Ramires cenderung statis sebagai double-pivot bersama Mikel, di babak II Ramires lebih agresif dan cenderung menjadi seorang box-to-box midfielder. Pemain Brasil ini lebih rajin bergerak ke depan, baik itu berdiri sejajar dengan Mata maupun mendekati areanya Oscar.
Perubahan ini membuat Chelsea unggul jumlah pemain saat memasuki daerah pertahanan United. Situasi di lini tengah bukan lagi 3 vs 3 [Hazard-Mata-Oscar vs Jones-Carrick-Cleverley], tapi 4 vs 3. Efek lainnya adalah makin leluasanya Mata bergerak di daerah pertahanan United. Dan inilah yang akhirnya menentukan hasil akhir.
Faktor Juan Mata
Dengan perubahan cara bermain Ramires di atas, Mata bisa lebih leluasa naik menopang Demba Ba. Posisinya tak lagi tertahan oleh Jones-Carrick, tapi sudah lebih sering berada di belakang Ba. Pemain pertama yang berhasil menorehkan double-digit dalam urusan mencetak gol dan membuat assist di musim 2012/2013 ini mulai sering mendapatkan ruang di dalam kotak penalti United.
Tak mengherankan jika statistik Mata di babak II ini jauh lebih mentereng. Jika di babak I dia tak sekali pun mampu membuat percobaan mencetak gol, sepanjang babak II dia malah mampu memproduksi 5 kali percobaan mencetak gol. Di babak II, Mata juga berhasil membuat beberapa key-passes [umpan yang lantas diakhiri dengan attempt] dan through pass -- sesuatu yang tak bisa dia lakukan sepanjang babak I.
Salah satu through pass yang dibuat Juan Mata di babak II bahkan berhasil dikonversi menjadi sebuah gol yang sangat cantik oleh Demba Ba. Assist Mata pada Ba ini melengkapi performa Mata di laga pertama saat ia juga mengkreasikan gol pertama Chelsea yang dicetak Hazard.
Publik lebih sering berbicara tentang catatan bagus Javier 'Chicharito' Hernandez saat menghadapi Chelsea [mencetak 6 gol dari 7 laga menghadapi Chelsea]. Tapi jangan lupakan Juan Mata. Dalam 6 laga menghadapi United, hanya sekali Mata tak berhasil membuat gol atau assist. Di 5 laga terakhir, Mata selalu memberikan kontribusi vital: jika tak mencetak gol, minimal dia selalu berhasil membuat assist.
Total kontribusi Mata bagi Chelsea saat menghadapi United dalam 5 laga terakhir adalah mencetak 2 gol dan membuat 3 assist.
Strategi Pergantian Pemain
Chicarito sebenarnya tak bermain buruk. Sendirian di lini depan, tanpa dukungan memadai dari lini tengah, dia masih sempat membuat 2 percobaan mencetak gol. Cech secara luar biasa berhasil mementahkan 2 percobaan Chica tersebut.
Kendala terbesar Chica adalah minimnya suplai dari lini tengah. Hanya Wellbeck yang relatif bermain baik. Sementara Nani sama sekali tak memberi kontribusi yang berarti. Begitu juga dengan Cleverley yang sebenarnya diinstruksikan untuk lebih aktif ke depan saat menyerang. Tidak heran jika dua pemain itu pula yang ditarik keluar digantikan oleh Robin van Persie dan Ryan Giggs.
Perubahan ini membuat United bermain dengan formasi 4-4-2. Selain menduetkan Persie dan Chica di lini depan, Fergie juga menukar posisi Jones dan Valencia. Kali ini Jones menjadi full-back kanan, sementara Valencia mengisi posisi di flank kanan. Giggs sendiri berada di depan Carrick. Karena tak kunjung mempertajam daya gedor, Fergie kembali melakukan perubahan terakhir. Wellbeck ditarik ke luar digantikan oleh Ashley Young pada menit 80.
Perubahan kali ini cukup berhasil meningkatkan serangan United. 10 menit terakhir, United sangat dominan dalam melakukan serangan. Ryan Bertrand di kiri dan Azpilicueta di kanan harus sekuat tenaga mempertahankan wilayahnya dari serbuan Valencia dan Young. Sampai-sampai, Mata dan Oscar pun harus ikut bertahan dan akhirnya menerima kartu kuning dalam selang 1 menit saja.
Sayang tak cukup waktu bagi United. Tentu saja ditambah satu hal: mandulnya Van Persie yang gagal mengkonversi peluang emas di depan gawang Chelsea.
Kesimpulan
Ini bukan laga hebat dengan kejadian-kejadian spektakuler. Laga cenderung datar walau kedua tim sebenarnya tidak ada yang berusaha bermain bertahan. Total 32 percobaan mencetak gol di laga ini setidaknya menunjukkan bagaimana kedua tim berusaha aktif menyerang. Laga di babak II juga cenderung lebih hidup ketimbang babak I yang monoton.
United bermain lebih baik ketimbang di laga pertama, tapi sukar untuk tidak mengatakan United bermain terlalu standar. Anak asuh Fergie ini baru menyengat setelah ketinggalan. Bermain buruk tentu saja bukan barang baru bagi United. Bedanya: ini bukan Liga Inggris di mana United sangat sering berhasil meraih 3 poin walau bermain buruk sekali pun.
Sejauh ini, setidaknya dalam 3 laga di Piala Carling dan Piala FA, Rafa Benitez terbukti menjadi kartu mati bagi United dan Sir Alex Ferguson.
Glory - Glory Man. United
Selasa, 26 Maret 2013
Pemain Terbaik Indonesia Sudah Ketinggalan Zaman
Meski masih menjadi perdebatan, Liga Inggris dicap sebagai kompetisi terbaik di dunia. Salah satu penandanya adalah sisi keramaian tontonan, glamor, pamor dan kekayaan sejumlah klubnya. Tetapi kualitas permainan ternyata tidak seglamor kompetisinya. Kendati Chelsea mampu merajai Liga Champions musim lalu, tidak sedikit yang menyebut Liga Inggris overrated atau dinilai terlalu tinggi dari level yang sesungguhnya.
Mereka yang kontra membandingkannya dengan timnas Inggris. Mereka mempertanyakan pengaruh Liga Inggris terhadap prestasi timnas Inggris, meski belum ada jaminan kompetisi yang bagus akan selalu menghasilkan timnas yang bagus pula. Faktanya, timnas Inggris tak pernah lagi berprestasi sejak menjuarai Piala Dunia 1966, yang saat itu digelar di negeri mereka sendiri.
Dalam kasta yang berbeda, hal senada juga terjadi pada Indonesia. Liga Super Indonesia (LSI/ISL) yang selalu riuh dan ditunggu-tunggu penonton ternyata gagal memberi pengaruh kuat bagi timnas Indonesia. Bukti terbaru terlihat pada permainan Indonesia melawan Arab Saudi di kualifikasi Pra-Piala Asia 2015 pada Sabtu (23/3) malam WIB lalu.
Dari serangkaian berita sebelum pertandingan, berbagai media massa mengutip rencana pelatih Rahmad Darmawan (RD) untuk melawan Arab Saudi.
Pertama, RD mengaku fokus pada sistem transisi permainan dari menyerang (attacking) ke bertahan (defending), menjaga zona & pergerakan lawan, serta mewaspadai sayap Arab.
Kedua, RD akan meminta para pemainnya untuk membatasi ruang gerak Arab di lini tengah.
Ketiga, RD mengatakan Indonesia harus memaksimalkan bola bawah dan bukan bola atas yang tidak efisien.
Keempat, RD ingin pemain Indonesia tidak tergesa-gesa melepas bola, sabar, dan mau mengembangkan permainan yang lebih kreatif.
Kelima, RD menyiapkan skema 4-2-3-1 dengan fokus pada para gelandang yang kuat.
Saat pertandingan, dari kelima poin tersebut hanya satu yang terlaksana, yakni skema 4-2-3-1. Itu pun sebenarnya tidak murni 4-2-3-1. Selebihnya, meleset jauh. Transisi menyerang-bertahan atau sebaliknya berantakan. Salah satu buktinya adalah kebingungan para pemain Indonesia untuk mengalirkan bola sehingga umpan langsung (direct) yang tidak efektif terpaksa ditempuh.
Penjagaan zona dan pergerakan lawan juga tak terjadi. Salah satu contoh, jarak antar pemain yang terlalu jauh dan seringnya pemain Indonesia terisolir sendirian saat menguasai bola atau saat membayangi lawan.
Akibat zona yang tak terbangun, baik saat menguasai bola maupun kehilangan bola, Indonesia menjadi gagal memberi tekanan (pressing) pada ruang gerak Arab Saudi. Pola permainan paling mencolok yang ditunjukkan Indonesia adalah aliran umpan langsung yang lebih sering melambung. Zona juga tak mungkin terwujud ketika ketahanan stamina para pemain terbatas. Seperti biasanya, para pemain Indonesia mulai kehabisan napas mulai menit 60-an.
Ironisnya, mayoritas pemain Indonesia sering menolak bila ditempa keras demi peningkatan standar staminanya.
Secara keseluruhan, permainan Indonesia melawan Arab juga terlihat pada pertandingan-pertandingan timnas sebelumnya. Tanpa bermaksud membandingkan pelatih, sedikit perbedaan permainan Indonesia terlihat saat masih ditangani Nil Maizar dengan sejumlah pemain mudanya.
Misalnya, ketika mengalahkan Singapura 1-0 di ajang Piala AFF 2012 lalu. Ini pun dikarenakan masa latihan dan persiapan yang lebih panjang.
Melawan Arab, timnas Indonesia kembali diperkuat para pemain dari kompetisi LSI yang selama dua tahun terakhir absen akibat konflik di tubuh PSSI. Kembalinya para pemain langganan timnas itu meningkatkan euforia. Tidak sedikit media massa dan publik menyebutnya sebagai barisan para pemain terbaik. Namun sayang, permainan mereka tidak cukup untuk disebut terbaik. Tetapi jangan salah paham, para pemain itu sama sekali tidak bisa disalahkan terhadap permainannya sendiri.
Saat melawan Arab, para pemain ini terlihat berjuang keras. Bahkan sangat keras. Mereka sudah menguras seluruh kemampuannya. Masalahnya, meski ini para pemain terbaik di Indonesia, standar skil mereka memang terbatas. Apalagi, liga di Indonesia sebagai ujung tombak pembinaan tidak cukup kondusif untuk bisa meningkatkan standar skil dan stamina pemain tersebut.
Klub tidak cukup berhasil memberi pemahaman bentuk permainan kepada para pemainnya. Padahal di sinilah para pemain sehari-hari berada dan setiap pekan bermain. Lihatlah, permainan di LSI atau juga LPI. Apa yang diperagakan timnas bisa dilihat di liga.
Secara kasar, lebih dari 80% tim selalu memainkan pola bola terobosan, bola langsung, dan bola atas. Hanya ada satu-dua tim yang sudah mencoba memainkan pola bola pendek antar zona, meski tidak konsisten.
Di liga, permainan tersebut memang terkesan tak ada masalah karena skil lawan yang dihadapi relatif sama. Polanya adalah permainan bola langsung dan bola daerah ke sisi lebar lapangan diteruskan dengan umpan silang yang sering berhasil menjadi gol. Jarang menempuh pola yang dibangun dari lini ke lini secara cermat.
Satu hal lagi yang mencolok dari permainan di Indonesia adalah aksi menggiring (dribbling) bola sepanjang lebih dari lima meter. Padahal hal tersebut sudah usang.
Dari tren permainan 2012 hasil kompilasi kolomnis The Guardian, Jonathan Wilson, sepak bola kini didominasi oleh permainan umpan dan umpan. Bola tidak lagi dikuasai seorang pemain terlalu lama. Bola harus terus diedarkan agar musuh tak punya kesempatan untuk menata barisannya.
Tapi sekali lagi, para pemain Indonesia - bahkan yang terbaik sekalipun - punya standar kemampuan yang terbatas dan ketinggalan zaman. Skil mereka tidak cukup diberdayakan dan dikembangkan di klubnya.
Lihatlah bagaimana para pemain Indonesia kebingungan mengantisipasi aliran umpan segitiga (triangular pass) yang dijalankan Arab. Pola umpan itu merupakan salah satu tren permainan sepak bola 2012. Pola itu sudah dimainkan oleh Singapura, Malaysia, Thailand dan bahkan Laos.
Malangnya, untuk bisa menjalankan atau mengantisipasi pola taktik mikro tersebut dibutuhkan bangunan zona yang justru tidak dikuasai kebanyakan pemain Indonesia.
Sudah waktunya bagi Indonesia untuk segera mengejar ketinggalan pemahaman dan paradigma sepak bola yang terus berevolusi. Kegagalan demi kegagalan Indonesia menjuarai ajang level Asia Tenggara sudah waktunya dijadikan pelajaran. PSSI sebagai pembina sepakbola Indonesia seharusnya gencar mendidik dan mencetak pelatih yang dapat melakukan transformasi ilmu dan taktik kepada para pemain di kompetisi klub.
Revolusi permainan sudah harus dilakukan di level klub. Sebab dari sanalah pasokan pemain untuk timnas berasal. Selama klub masih memainkan pola lama, maka timnas akan tetap berada dalam situasi yang dikebiri.
Senin, 25 Maret 2013
Gambaran Indonesia Di Stadion GBK Senayan
Kita bisa melihat gambaran bagaimana kehidupan Negara Indonesia berjalan jika anda sering atau pernah menyaksikan Timnas PSSI bertanding di Senayan. Terakhir saya baru saja menyaksikan pertandingan Timnas PSSI melawan Arab Saudi Pra Piala Asia 2015. Timnas kalah 1-2. Pertama kalinya sekitar tahun 2010, ketika saya awal kali tiba di Jakarta. Hal-hal berikut saya amati setelah berulang kali menyaksikan pertandingan yang dilakoni Timnas PSSI
Kita mempunyai stadion berkapasitas 88 ribu penonton. Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan merupakan terbesar ke-8 di dunia dari segi kapasitas penonton. Menggambarkan banyaknya jumlah penduduk negeri ini, serta kemampuan negara kita membangun prasarana olahraga yang megah.
Tiap kali Timnas PSSI bertanding, terutama di pertandingan resmi, lebih dari 90 persen dari kapasitas tempat duduk selalu penuh. Bahkan tidak jarang penonton membludak dan tiket yang tersedia habis. Banyak calo yang menangguk untung ketika situasi permintaan lebih banyak dari jumlah tiket yang tersedia. Walaupun tiket pertandingan mahal ditambah mark up oleh para calo, tetap saja tiket tersebut laku bak kacang goreng. Penonton yang datang bukan hanya dari wilayah DKI dan sekitarnya tetapi juga dari kota-kota lain di pulau Jawa dan dari luar Jawa. Menggambarkan bahwa rakyat kita banyak yang mampu. Ataukah mereka cuma memaksakan beli tiket yang mahal demi hadir langsung mendukung Timnas? Setidaknya ada gambaran bahwa ekonomi bangsa kita tidak payah-payah amat.
PSSI dan panitia penyelenggara pertandingan Timnas selalu mengulang kesalahan yang sama dalam sistem penjualan tiket. Terutama dalam hal publikasi, kapan dan dimana tiket akan dijual. Selama ini kita mesti datang langsung ke stadion untuk mencari tahu hal tersebut. Informasi yang diberikan oleh siaran televisi dan koran suka simpang siur. Mengatur penjualan tiket untuk 88 ribu penonton memang bukan hal yang gampang, tetapi tentunya bukan hal yang sulit-sulit amat apalagi Timnas bukan sekali setahun main di senayan. PSSI menurut saya belum punya standar baku yang efektif untuk sistem penjualan tiket (kalau ada yang tau tolong dishare). Mau pengurus berganti, kalau sistemnya sama saja, tidak akan ada perbaikan yang signifikan. Sedikit memberi gambaran pemerintahan kita sekarang yang nampak berjalan ditempat dan tidak terarah mengatur negara. Saran saya, kalau mau beli tiket pertandingan Timnas, datanglah pada hari-H pertandingan, datangi loket yang berada di sebelah kiri pintu gerbang Istora Senayan, dari pengalaman saya, loket ini lebih kurang antriannya dibandingkan loket-loket yang lain.
Kalau anda mau nonton di senayan, belilah tiket kategori 1. Tiket ini dibawah harga VIP timur. Karena dengan tiket kategori 1 anda bisa duduk di VIP timur/barat. Caranya anda masuk saja dulu sesuai pintu masuk tiket kategori 1, setelah di dalam anda bisa melangkahi pembatas untuk VIP yang hanya sepinggang. Cukup melangkah tidak perlu lompat, anak SD juga bisa lewat. Dari dulu hingga sekarang masih seperti itu. Polisi dan petugas tidak mampu menghalau. Polisi yang ditugaskan berjaga di stadion selalu polisi muda yang baru lulus, polisi yang masih culun, pemalu, takut-takut, dan ga ada wibawa. Penonton yang rata-rata datang dengan semangat juang 45 tidak ada rasa takut sama sekali pada polisi-polisi muda yang sempritan-pun ga punya. Para polisi muda tersebut malah asik mencari posisi terbaik untuk menonton gratis bukannya berjaga. Gambaran bagaimana Polisi kita sehari-harinya bertugas mungkin memang seperti itu. Penyelenggaraan terbaik menurut saya ketika Piala Asia 2015. Petugas tersebar dengan sangat bagus di pembatas kursi VIP mencegah penonton bermental kampungan melangkahi pembatas. Bahkan penonton di sektor VIP diarahkan duduk sesuai nomer kursinya. Tapi memang petugas yang disiagakan juga harus banyak. Solusi permanen menurut saya adalah dengan meninggikan pembatas sektor VIP agar tidak bisa lagi dilewati penonton yang tidak berhak untuk duduk disitu, dan para penonton yang bayar tiket VIP tidak diambil haknya.
Jumlah perokok di Indonesia yang sangat tinggi bisa anda buktikan ketika menonton di stadion. Enam dari sepuluh pria Indonesia adalah perokok aktif. Kiri kanan atas bawah anda dikelilingi asap rokok. Stadion belum jadi tempat bebas rokok. Perda DKI nampaknya tidak berlaku di senayan. Padahal akhir-akhir ini menonton pertandingan Timnas mulai menjadi tujuan rekreasi keluarga, wanita dan anak-anak jumlahnya sangat banyak ikut menyaksikan pertandingan di Stadion. Dan saya belum pernah melihat ada spanduk bertuliskan larangan merokok di dalam stadion. Mungkin memang belum terlintas dipikiran pengurus PSSI atau sengaja tidak dipasang. Mau gimana lagi, sebagaimana yang kita ketahui, yang mau menjadi sponsor utama Liga Sepakbola Indonesia selama ini adalah perusahaan rokok.
Orang Indonesia suka narsis tapi nasionalis dan optimis namun bisa segera berubah jadi anarkis. Para pendukung timnas datang dengan berbagai atributnya yang didominasi warna merah, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebelum pertandingan dimulai, siapapun lawannya, pendukung Timnas selalu yakin bisa menang. Keadaan akan berbalik mencaci maki pemain dan pelatih Timnas hingga pengurus PSSI bahkan Presiden RI, ketika Timnas bermain buruk apalagi kalah. “Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku, Ku yakin hari ini pasti menang.. Kobarkan semangatmu, Tunjukkan sportivitasmu, Ku yakin hari ini pasti menang..” Pemain Timnas kita sudah bermain sportif, bermain penuh semangat hingga peluit akhir dan keluar lapangan dengan kepala tegak walau akhirnya kalah, tetapi penonton sendiri yang suka ga sportif. Dimulai ketika lagu kebangsaan lawan dinyanyikan, teriakan “Huuu…” dan lengkingan terompet tiada henti, ketika lawan berhasil mencetak gol, mercon ditembakkan ke arah pemain cadangan lawan yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan, dan membakar benda-benda apa saja di kursi stadion ketika Timnas akhirnya kalah. Saya selalu kecewa ketika melihat Timnas kalah, tetapi lebih kecewa dengan sikap tidak sportif para penonton kita. Sehari-harinya mungkin memang begitulah wajah bangsa kita, yang masih kurang bersyukur, yang masih kurang berterima kasih, yang masih tidak bisa berhenti ribut dengan sesamanya dan sulit akur, yang susah diatur. Indonesia adalah bangsa yang besar yang tentu butuh pemimpin besar. Saya berharap kelak Indonesia akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang berkharisma seperti Soekarno, tegas seperti Soeharto, cerdas seperti Habibie, toleran seperti Gus Dur, tenang seperti Megawati, dan mampu menjaga citra seperti SBY.
Pengalaman menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama puluhan ribu penonton yang lain merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Satu suara bergemuruh, stadion seakan mau runtuh, ego kesukuan dan daeraisme segera luruh, nasionalisme akan tumbuh. Stadion GBK Senayan adalah ibarat kiblat untuk menebalkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang mesti diziarahi sekali seumur hidup.
“… menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10%mencintai sepak bola dan 90% mencintai Tanah Air” (Andrea Hirata-Sebelas Patriot, hal.88)
Wassalam,
-Pencinta Timnas PSSI, penikmat sepakbola, dan komentator amatiran.
Umpan Silang Arab Saudi & Double-Pivot Indonesia Yang Hilang
Indonesia akhirnya kembali harus menelan kekalahan dari Arab Saudi, kali ini dengan skor tipis 1-2. Kekalahan tetap saja kekalahan, dan ini memperpanjang rekor buruk Indonesia yang tidak pernah menang atas Arab Saudi. Kendati demikian, Indonesia bukannya tak memberikan perlawanan. Skor tipis sudah menjelaskan betapa laga ini berjalan tidak mudah bagi Arab.
Apa saja hal-hal menarik yang membuat laga ini bisa dikatakan berjalan ketat? Apa yang membuat Indonesia bisalah dikatakan sanggup memberi perlawanan yang berarti? Lalu apa yang menjadi kunci kemenangan Arab? Berikut 10 catatan dari Pandit Football Indonesia.
1. Mikro Taktik RD
Rahmad Darmawan (RD) mengklaim dirinya menggunakan formasi dasar 4-2-3-1 dengan Ponaryo dan Immanuel Wanggai menjadi double-pivot di lini tengah. Dengan Boaz Solossa berada di depan, maka duo Ian Kabes di kiri dan M. Ridwan di kanan bahu-membahu dengan Sergio van Dijk di belakang Boaz. Tapi pada praktiknya di lapangan, Indonesia sebenarnya cenderung bermain dengan formasi 4-3-3 yang tidak simetris.
Selain Ponaryo-Wanggai yang berperan melindungi back-four, Ridwan yang menempati posisi sayap kanan juga cenderung menjadi defensive-winger yang ditugaskan mula-mula untuk meng-cover Zulkifli Syukur di posisi full-back kanan. Dalam konferensi pers setelah pertandingan, RD pun mengakui bahwa Ridwan dipilih untuk mengantisipasi serangan lawan.
Sementara di pos menyerang, duet Boaz-SvD di depan banyak ditopang oleh Ian Kabes di sayap kiri. Berbeda dengan Ridwan yang dipilih dengan orientasi lebih condong bertahan, Kabes di sisi kiri dibiarkan untuk lebih aktif menyerang. Situasi ini membuat area yang ditempati Supardi di sisi kiri pertahanan Indonesia lebih rentan diserang. Immanuel Wanggai terpaksa harus banyak mengisi celah-celah di area kerjanya Supardi ini.
2. Garis Pertahanan yang Dalam
Duet Hamka Hamzah dan Victor Igbonefo jarang sekali naik sampai duapertiga lapangan. Keduanya cenderung konstan di sepertiga lapangan sendiri. Dengan Ponaryo dan Wanggai juga jarang sekali naik ke depan dan sibuk membendung serangan Arab, jelas sekali Indonesia bermain dengan garis pertahanan yang dalam.
Skema bertahan ini terbukti efektif untuk menjinakkan serbuan Arab yang dikirim langsung ke jantung pertahanan. Jarang sekali lawan mampu melakukan percobaan mencetak gol lewat skema through-pass dari lini kedua. Hamka dan Igbonefo cenderung mampu mengantisipasi umpan-umpan terobosan Arab. Di babak I, tercatat hanya sekali Arab mempu memproduksi shot on target melalui umpan terobosan.
Inilah yang menjadi faktor utama kenapa Arab Saudi tak berhasil mencetak gol melalui skema serangan yang menyerang langsung jantung pertahanan Indonesia dari tengah. Aspek inilah yang menjadi nilai lebih skema dan taktik yang dipakai RD dan Jacksen F. Tiago.
3. Instabilitas Hamka
Sempat dihebohkan karena ucapannya hendak "nampol" para pemain naturalisasi, Hamka Hamzah di laga ini malah dua kali "ditampol" sundulan pemain Arab Saudi. Dua gol yang bersarang di gawang Indonesia selalu melibatkan kekalahan Hamka berduel bola udara.
Di luar dua gol itu, Hamka bermain solid di jantung pertahanan Indonesia. Antisipasinya dalam memotong umpan-umpan terobosan Arab Saudi nyaris sempurna. Garis pertahanan yang dalam memungkinkan Hamka dan Igbonefo lebih sering menunggu bola-bola Arab Saudi di posisi yang tak perlu memaksa mereka membalikkan badan 180 derajat.
Dalam duel bola-bola atas Hamka juga sering menang. Dominasi Hamka dalam duel bola-bola atas seringnya terjadi saat pemain lawan sedang membelakangi gawang Indonesia atau saat Hamka berada di belakang pemain yang dijaganya. Tapi, saat lawan yang dijaganya berdiri sejajar atau bahkan di belakang Hamka, seperti dalam insiden dua gol Arab itu, Hamka kalah berduel.
4. Minimnya Peranan Ponaryo
Dengan Wanggai menjadi ball-winning, maka tandem Wanggai sebagai double-pivot mesti bisa lebih menahan bola, punya passing bagus, dan cenderung mampu menjaga zonal saat bertahan. Secara taktik, pilihan pada Ponaryo sebenarnya masih dapat dipahami karena Ponaryo dan Bustomi sama-sama punya gaya main yang memenuhi syarat seperti itu. Ditambah pertimbangan jam terbang (sebagaimana diuraikan RD setelah pertandingan), maka pilihan jatuh pada Ponaryo.
Menjadi kendala ketika Ponaryo ternyata tak mampu mengemban tugas itu. Popon, demikian panggilan akrab Ponaryo, tak maksimal menyuplai bola ke depan, juga kelimpungan mengisi celah-celah yang ditinggalkan Wanggai yang sepanjang laga sibuk berduel dengan para pemain tengah Arab dan juga cukup repot membantu Supardi yang terus menerus dicecar oleh pemain Arab.
Ponaryo praktis makin "hilang" di babak II. Kontribusi Ponaryo terasa kian menurun setelah turun minum. Ini menyisakan lubang besar di jantung lini tengah Indonesia. Ini dimanfaatkan oleh Arab Saudi dengan meningkatkan frekuensi percobaan mencetak gol dari lini kedua, kebanyakan dari pos yang ditempati oleh Ponaryo.
Jika memilih Ponaryo sebagai starter masih bisa dipahami secara taktikal, maka pilihan untuk terus mempertahankan Ponaryo sampai menit 89 agak sukar dimengerti dan itu sebabnya banyak dipertanyakan.
5. Umpan Silang dari Arab Saudi
Sejak awal, Arab Saudi terlihat mengeksploitasi sisi sayap pertahanan Indonesia, baik dari kanan yang dijaga Zulkifli maupun sisi kiri yang dikawal Supardi. Arab Saudi secara rutin mengirim ancaman melalui umpan-umpan silang dari kedua sisi ini. Dua gol Arab yang semuanya berasal dari umpan silang menjelaskan betapa efektifnya pilihan taktik ini.
20 menit pertama pertandingan, Arab sudah melakukan tiga umpan silang dari daerah Supardi. Dari total 7 percobaan mencetak gol yang dilakukan Arab sampai menit ke-20, 5 di antaranya dilakukan dari sisi kiri pertahanan Indonesia. Sisanya dari sisi kanan pertahanan Indonesia.
Usai menit 20, Arab Saudi beralih haluan memfokuskan serangan dari tengah dan kiri. Hanya saja, kesulitan menembus garis pertahanan Indonesia membuat Arab Saudi kerap melakukan percobaan mencetak gol dari luar kotak penalti. Tercatat ada 4 attempt yang mereka lakukan, 2 di antaranya on target yang mampu diblok Kurnia Meiga.
Memasuki babak II, Arab Saudi melakukan perubahan serangan. Mereka makin intensif mencoba mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Indonesia yang dijaga Zulkifli. Dari 10 umpan ke dalam kotak pinalti Indonesia sepanjang babak II, 4 di antaranya berasal dari sisi kiri pertahanan Indonesia dan 6 sisanya dari sisi kanan yang dijaga Zulkifli.
6. Faktor Supardi
Dua gol yang bersarang di gawang Kurnia Meiga semuanya berasal dari umpan silang yang dikirimkan dengan leluasa dari area yang dijaga Supardi. Dalam dua momen mematikan itu, lawan dengan bebas dan tanpa pressing mengirimkan umpan silang.
Sebenarnya Supardi tak buruk-buruk amat di pertandingan ini. "Kebocoran" di area yang dijaganya ini bisa dibaca sebagai risiko taktikal. Dengan membiarkan Ian Kabes aktif membantu serangan, praktis Supardi tak cukup mendapat bantuan dalam melindungi areanya. Berbeda dengan Zulkifli di kanan yang sering dibantu Ridwan.
Gol kedua Arab menjelaskan betapa area Supardi jadi rentan karena faktor itu. Seperti terlihat dalam gambar di bawah ini, Ian Kabes yang sebenarnya sudah berada di posisi bertahan, dengan mudah sekali dilewati oleh pemain lawan. Dan begitu Kabes dilewati, sialnya posisi Supardi juga jauh. Lawan dengan mudah mengirim umpan silang mematikan persis di antara Kabes dan Supardi.
Jika pun harus dipersoalkan barangkali pilihan RD menempatkan Supardi sebagai full-back kiri. Di klubnya sekarang, Persib Bandung, Supardi selalu bermain sebagai full-back kanan. Begitu juga saat Supardi bermain di klub sebelumnya, Sriwijaya FC. Supardi dan Ridwan adalah "satu paket" di sisi kanan. Entah kapan terakhir kalinya Supardi bermain sebagai full-back kiri.
7. Peran Sentral Van Dijk
Saat menghadapi tim-tim kuat, Indonesia biasanya menyerang secara cepat lewat serangan balik yang dibangun oleh kedua flank. Hal ini berbeda dengan pertandingan semalam. Dengan menempatkan Boaz dan Van Dijk, pelatih Rahmad Darmawan terlihat mengubah pola serangan melalui poros tengah. Namun, dengan menempatkan Ridwan sebagai defensive winger dan Ponaryo-Wanggai sebagai double-pivot yang lebih banyak tertahan di wilayah sendiri, praktis pasokan bola ke lini depan lebih banyak dialirkan melalui umpan lambung atau lewat Ian Kabes yang diberi keleluasan untuk aktif menyerang.
Dengan skema serangan seperti ini, keberadaan Van Dijk jadi sentral bagi Indonesia. Striker ini berperan untuk menerima bola-bola lambung dari Hamka atau Zulkilfi dan mendistribusikannya pada Boaz atau Ian Kabes. Hal ini jelas terlihat terutama pada zona waktu menit 45-60. Dari 9 kali Indonesia memasuki area pertahanan Arab Saudi, 7 kalinya selalu melalui Van Dijk.
Grafik Distribusi Bola Indonesia di Sepertiga Lapangan Akhir (menit 45-60)
Namun, dengan mengambil peran sebagai second-striker, bukan berarti Van Dijk tidak melakukan percobaan ke arah gawang. Bahkan, dari 12 kali attempts yang dilakukan Indonesia, 7 di antaranya dilakukan Van Dijk.
Grafik Percobaan Ke Arah Gawang Timnas Indonesia
8. Menyerang di 15 Menit Akhir
Satu pola penyerangan yang terlihat dalam pertandingan kali ini adalah Indonesia yang baru bisa memasuki daerah pertahanan Arab Saudi di 15 menit terakhir setiap babaknya. Di babak pertama, total 31 kali Indonesia mengalirkan bola ke area sepertiga lapangan akhir, dan 15 di antaranya (48%) terjadi pada menit 30-45. Hal yang sama terjadi di babak dua. Dari 24 kali memasuki area pertahanan Arab Saudi, 13 kali (54%) baru dilakukan pada menit 75-90.
Namun, walau bisa mengalirkan bola ke sepertiga lapangan akhir, Indonesia sendiri selama 70 menit kesulitan untuk membongkar pertahanan Arab Saudi. Hal ini disebabkan oleh duet lini tengah Ponaryo-Wanggai yang kesulitan mendistribusi bola lewat umpan-umpan pendek. Bola kemudian dialirkan melalui umpan lambung, dan dipantulkan melalui Sergio Van Dijk, atau melalui Ian Kabes. Lini pertahanan Arab Saudi dengan baik bisa melakukan intercept atau clearance bola-bola yang dipantulkan Van Dijk atau merebut bola dari kaki Kabes.
Akibatnya serangan Indonesia di 15 menit akhir ini tidak berjalan efektif. Bahkan di menit 75-90, dua percobaan ke arah gawang yang dilakukan oleh Indonesia sendiri berasal dari bola mati. Pertama datang dari tendangan bebas Ian Kabes dari pinggir kiri kotak penalti, sementara kedua adalah dari tendangan Igbonefo yang berasal dari tendangan penjuru Ian Kabes. Di zona waktu ini (menit 75-90), sama sekali tidak ada serangan dari permainan terbuka yang berujung pada percobaan ke arah gawang.
9. Kombinasi Greg-Van Dijk
Skema serangan berubah saat Rahmad Darmawan memasukkan Greg Nwokolo untuk menggantikan Ian Kabes. Sebelumnya serangan Indonesia lebih sering dilakukan di sisi kiri, yaitu melalui Ian Kabes yang bergerak menyusuri flank kiri tanpa menusuk ke kotak penalti Arab Saudi.
Setelah Greg masuk, Indonesia kemudian melakukan serangan dari poros tengah maupun sayap kanan dan kiri. Greg berkali-kali menguasai bola baik di sisi kanan maupun kiri pertahanan Arab (lihat chalkboard). Greg juga mampu membangun kombinasi dengan van Dijk dan sering terlibat dalam umpan satu-dua di daerah pertahanan Arab Saudi.
Karena perkembangan baru itu pula maka van Dijk juga tak lagi berfungsi sebagai penerima umpan lambung. Van Dijk jadi lebih konstan berada di dalam kotak penalti. Tak mengherankan jika pada 15 menit terakhir babak II, 3 percobaan mencetak gol Indonesia semuanya dilakukan oleh Van Dijk dari dalam kotak penalti.
Grafik Distribusi Bola Indonesia di Sepertiga Lapangan Akhir (menit 30-45). Terlihat bahwa area kanan lapangan jarang digunakan untuk menyerang.
Grafik Distribusi Bola Indonesia di Sepertiga Lapangan Akhir (menit 75-90). Terlihat bahwa setelah Greg Masuk, serangan Indonesia semakin merata dari sayap kanan, kiri, maupun dari poros tengah.
10. Menurunnya Performa Boaz
Kehadiran Greg meningkatkan kemampuan Indonesia untuk menguasai bola di area pertahanan Arab Saudi. Pemain Indonesia pun mampu menekan lini pertahanan Arab Saudi untuk bertahan lebih dalam.
Namun, ada efek negatifnya: Boaz tidak cukup punya ruang bergerak. Kekuatan Boaz terletak pada kemampuannya mengeksploitasi ruang kosong di belakang bek lawan saat diberi umpan-umpan terobosan. Dengan ruang yang semakin sempit di area kotak penalti Arab Saudi, maka striker ini kesulitan untuk memaksimalkan kelebihannya.
Semenjak Greg masuk ke lapangan, Boaz lebih sering terlihat turun ke lini tengah. Bahkan ia sempat dua kali berada sejajar dengan Van Dijk di area lingkaran tengah lapangan, saat Van Dijk turun menjemput bola. Di 15 menit akhir, Boaz pun hanya mampu satu kali menembus kotak penalti Arab Saudi saat tendangannya diblok center-back Arab Saudi.
Langganan:
Postingan (Atom)























